HIKMAH DI BALIK PENISTAAN AL-QUR'AN
Peristiwa penistaan al-Qur'an yang terjadi
belum lama ini cukup meninggalkan luka yang dalam di hati kaum muslimin. Kemarahan
umat yang kemudian terekspresikan dalam bentuk aksi damai yang beradab
merupakan reaksi yang wajar dan alamiah. Artinya, sudah sewajarnya kaum
muslimin marah, menuntut hukuman yang setimpal bagi sang penista dan mereka
tidak rela jika ia dibiarkan bebas begitu saja.
Di sisi lain berbagai kekhawatiran muncul di
benak umat, bahwa jangan-jangan si penista itu akan lolos dari hukum
dikarenakan ia memiliki jabatan yang cukup tinggi yaitu gubernur DKI dan juga backing
keuangan yang relatif sangat kuat. Kita sering mendengar sebagian orang berkata
dengan nada pesimif, “Di negeri ini apa yang tidak bisa dibeli dengan uang.”
Di tengah suasana yang tidak menentu ini,
beredar berita atau isu bahwa Ahok dan kroninya telah siap menggelontorkan dana
200 milyar untuk melepaskan Ahok dari semua tuntutan hukum. Jika isu ini benar,
maka ini merupakan petaka besar. Kenapa petaka besar? Karena strategi semacam
ini dapat menyeret orang-orang yang lemah imannya untuk masuk dalam barisan
pengusung kemunafikan.
Kita tidak boleh lupa, al-Qur'an telah
berulang kali mengingatkan bahwa harta/amwaal adalah cobaan (fitnah) yang
cukup berbahaya bagi manusia. Tidak sedikit manusia yang menggadaikan
keyakinannya hanya untuk meraup sedikit harta. Ditambah lagi bahwa diantara
tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah munculnya beragam fitnah yang akan
melanda umat. Hal ini sebagaimana diisyaratkan dalam sebuah hadits berikut:
بَادِرُوا
بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا
وَيُمْسِى كَافِرًا وَيُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ أَحَدُهُمْ دِينَهُ
بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا قَلِيْلٍ
“Bersegeralah kalian melakukan amal-amal
shalih sebelum datangnya fitnah-fitnah yang datang bagaikan potongan-potongan
malam yang gelap, yang karena fitnah itu seseorang berpagi hari dalam keadaan
beriman kemudian di sore harinya ia kafir, dan ada pula yang di sore harinya ia
beriman lalu di pagi harinya ia kafir. Ia menjual agamanya dengan harta benda
dunia yang sedikit.” (HR. Tirimidzi dan Ahmad)
Di antara sunnatullah (ketetapan Allah)
yang tidak akan berubah pada hamba-hamba-Nya adalah al-ibtila’ wat tamhish (ujian
dan penyaringan). Allah Ta'ala sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang
munafik berbaur dengan orang-orang mukmin. Tetapi Allah akan merancang berbagai peristiwa yang dapat menjadi
penyaring antara orang-orang beriman dengan orang-orang munafik.
Allah berfirman:
“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang
beriman dalam keadaan kalian sekarang ini yaitu bercampur-baurnya kaum muslimin
dengan kaum munafikin sehingga Dia menyisihkan yang buruk (orang munafik) dari
yang baik (orang mukmin).” (QS. Ali ‘Imran: 179)
Peristiwa penistaan al-Qur'an kemarin
benar-benar menjadi batu ujian bagi keimanan. Orang-orang mukmin yang jujur
niscaya akan marah dan tidak rela mendengar kitab sucinya dilecehkan. Adapun
orang-orang munafik akan mencari seribu satu alasan untuk membenarkan tindakan
Ahok yang telah jelas-jelas menistakan kitab suci al-Qur'an. Mereka ini
sebenarnya telah menukar kenikmatan akhirat yang kekal abadi dengan kesenangan
dunia yang singkat.
Namun demikian, sikap orang-orang munafik yang
siap menjadi pembela Ahok ini bukan suatu hal yang aneh karena para munafik
akan senantiasa ada di setiap zaman. Terlebih lagi al-Qur'an telah mensinyalir
keberadaan orang-orang semacam ini. Allah berfirman:
“Maka kamu akan melihat
orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera
mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami khawatir akan
mendapat bencana". Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan
(kepada Rasul-Nya), atau suatu keputusan dari sisi-Nya sehingga mereka menjadi
menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” (QS.
Al-Ma’idah: 52)
Pertanyaannya, apakah fenomena kemunafikan
yang identik dengan kemurtadan ini akan membahayakan Allah Ta'ala? Biarlah
al-Qur'an sendiri yang menjawabnya.
“Wahai orang-orang yang
beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak
Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun
mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi
bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan
yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang
diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas
(pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Ma’idah: 54)
Adapun pertanyaan besar bagi kita, apakah kita
termasuk dalam generasi/kaum yang akan didatangkan oleh Allah untuk berjihad di
jalan-Nya demi membela kesucian agama-Nya? Boleh jadi kita semua mengklaim
bahwa kita termasuk di dalam golongan tersebut. Tetapi bagi Allah Ta'ala
tidaklah bermanfaat klaim atau pengakuan semata. Yang akan dilihat oleh Allah
adalah pembuktiannya. Yang akan Dia sorot adalah hati dan amal-amal kita.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk
hamba-hamba-Mu yang Engkau maksudkan dalam firman-Mu pada ayat 54 surat
Al-Maidah. Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati-hati kami
di atas dien-Mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar