Kamis, 10 November 2016

Hikmah Di balik Penistaan Al-Qur'an


HIKMAH DI BALIK PENISTAAN AL-QUR'AN

Peristiwa penistaan al-Qur'an yang terjadi belum lama ini cukup meninggalkan luka yang dalam di hati kaum muslimin. Kemarahan umat yang kemudian terekspresikan dalam bentuk aksi damai yang beradab merupakan reaksi yang wajar dan alamiah. Artinya, sudah sewajarnya kaum muslimin marah, menuntut hukuman yang setimpal bagi sang penista dan mereka tidak rela jika ia dibiarkan bebas begitu saja.
Di sisi lain berbagai kekhawatiran muncul di benak umat, bahwa jangan-jangan si penista itu akan lolos dari hukum dikarenakan ia memiliki jabatan yang cukup tinggi yaitu gubernur DKI dan juga backing keuangan yang relatif sangat kuat. Kita sering mendengar sebagian orang berkata dengan nada pesimif, “Di negeri ini apa yang tidak bisa dibeli dengan uang.”
Di tengah suasana yang tidak menentu ini, beredar berita atau isu bahwa Ahok dan kroninya telah siap menggelontorkan dana 200 milyar untuk melepaskan Ahok dari semua tuntutan hukum. Jika isu ini benar, maka ini merupakan petaka besar. Kenapa petaka besar? Karena strategi semacam ini dapat menyeret orang-orang yang lemah imannya untuk masuk dalam barisan pengusung kemunafikan.
Kita tidak boleh lupa, al-Qur'an telah berulang kali mengingatkan bahwa harta/amwaal adalah cobaan (fitnah) yang cukup berbahaya bagi manusia. Tidak sedikit manusia yang menggadaikan keyakinannya hanya untuk meraup sedikit harta. Ditambah lagi bahwa diantara tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah munculnya beragam fitnah yang akan melanda umat. Hal ini sebagaimana diisyaratkan dalam sebuah hadits berikut:  
بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا وَيُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ أَحَدُهُمْ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا قَلِيْلٍ
“Bersegeralah kalian melakukan amal-amal shalih sebelum datangnya fitnah-fitnah yang datang bagaikan potongan-potongan malam yang gelap, yang karena fitnah itu seseorang berpagi hari dalam keadaan beriman kemudian di sore harinya ia kafir, dan ada pula yang di sore harinya ia beriman lalu di pagi harinya ia kafir. Ia menjual agamanya dengan harta benda dunia yang sedikit.” (HR. Tirimidzi dan Ahmad)
Di antara sunnatullah (ketetapan Allah) yang tidak akan berubah pada hamba-hamba-Nya adalah al-ibtila’ wat tamhish (ujian dan penyaringan). Allah Ta'ala sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang munafik berbaur dengan orang-orang mukmin. Tetapi Allah akan merancang  berbagai peristiwa yang dapat menjadi penyaring antara orang-orang beriman dengan orang-orang munafik.
Allah berfirman:    
“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kalian sekarang ini yaitu bercampur-baurnya kaum muslimin dengan kaum munafikin sehingga Dia menyisihkan yang buruk (orang munafik) dari yang baik (orang mukmin).” (QS. Ali ‘Imran: 179)
Peristiwa penistaan al-Qur'an kemarin benar-benar menjadi batu ujian bagi keimanan. Orang-orang mukmin yang jujur niscaya akan marah dan tidak rela mendengar kitab sucinya dilecehkan. Adapun orang-orang munafik akan mencari seribu satu alasan untuk membenarkan tindakan Ahok yang telah jelas-jelas menistakan kitab suci al-Qur'an. Mereka ini sebenarnya telah menukar kenikmatan akhirat yang kekal abadi dengan kesenangan dunia yang singkat.
Namun demikian, sikap orang-orang munafik yang siap menjadi pembela Ahok ini bukan suatu hal yang aneh karena para munafik akan senantiasa ada di setiap zaman. Terlebih lagi al-Qur'an telah mensinyalir keberadaan orang-orang semacam ini. Allah berfirman:

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami khawatir akan mendapat bencana". Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau suatu keputusan dari sisi-Nya sehingga mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” (QS. Al-Ma’idah: 52)
Pertanyaannya, apakah fenomena kemunafikan yang identik dengan kemurtadan ini akan membahayakan Allah Ta'ala? Biarlah al-Qur'an sendiri yang menjawabnya.

“Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Ma’idah: 54)
Adapun pertanyaan besar bagi kita, apakah kita termasuk dalam generasi/kaum yang akan didatangkan oleh Allah untuk berjihad di jalan-Nya demi membela kesucian agama-Nya? Boleh jadi kita semua mengklaim bahwa kita termasuk di dalam golongan tersebut. Tetapi bagi Allah Ta'ala tidaklah bermanfaat klaim atau pengakuan semata. Yang akan dilihat oleh Allah adalah pembuktiannya. Yang akan Dia sorot adalah hati dan amal-amal kita.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang Engkau maksudkan dalam firman-Mu pada ayat 54 surat Al-Maidah. Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati-hati kami di atas dien-Mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar