Manfaat
Mempelajari dan Menerapkan Tauhid
Sebagai
seorang Muslim kita mesti membekali diri dengan ilmu dan keterampilan yang
berguna untuk masa depan kita. Kita boleh memilih satu disiplin ilmu yang sesuai
dengan minat dan bakat kita. Namun, ada satu ilmu yang mseti dikuasai dan
dimiliki oleh setiap Muslim. Ilmu tsb adalah ilmu tauhid. Ya, ilmu tauhid, ilmu
yang paling besar mafaatnya untuk masa depan setiap manusia. Pentingnya tauhid
dalam kehidupan seorang muslim sangatlah besar. Ia sebagai dasar utama atau
fondasi yang di atasnya dibangun seluruh ajaran Islam.
Selama
masa dakwahnya, Nabi kita Shallallohu 'alaihi Wasallam menjalani masa dakwah di
Mekkah selama 13 tahun dan di Madinah selama 10 tahun. Nah, selama periode
dakwah yang beliau lakukan di Makkah yaitu 13 tahun, sebagian besar perhatian
dan jerih payah beliau difokuskan untuk menyeru umat kepada tauhid dan membina
tauhid para sahabatnya. Ini menegaskan betapa tauhid sangat urgen pengaruhnya
dalam kehhidupan manusia. Ayat-ayat Alquran yang diturunkan Allah pada fase itu
fokus utamanya berbicara tentang tauhid. Lihatlah surat-surat yang dinuzulkan
Allah di Mekkah, seperti surat al-Mulk, Yaasiin, al-Waqi’ah, ar-Rahmaan,
al-Hadiid, Qoof, al-Haaqqah, al-Qiyamah, adz-Dzariyat dll. Tema utama
surat-surat tsb adalah tentang Tauhid, kabar gembira bagi hamba-hamba yang menerima
tauhid yaitu surga yang kekal abadi, dan ancaman bagi mereka yang menolak
tauhid yaitu siksa yang abadi.
Satu
catatan penting, siapa saja yang membaca surat-surat tsb dengan disertai
tadabbur niscaya akan merasakan suatu nuansa tersendiri yang khas , syahdu dan
menentramkan hati. Surat-surat tsb mengetuk sanubari orang yang membacanya
untuk merenungkan keagungan Allah, bukti-bukti keesaan-Nya, dan membuat kita berkelana
di alam surga yang luas atau meliput adzab neraka yang dahsyat.
Tidak
heran jika para sahabat yang masuk Islam di Mekkah merasakan getaran-getaran
wahyu Ilahi tsb dalam hati--hati mereka sehingga membuat mereka khusyu’, kokoh
aqidahnya dan mantap tauhidnya.
Generasi
sahabat, mereka yang dibina Rasulullah Shallallohu 'alaihi Wasallam adalah
manusia-manusia yang bertauhid, yang tidak dijumpai di permukaan bumi ini sebuah
genarasi yang menyerupai mereka, baik sebelum dan sesudahnya.
Tauhid
mampu merubah manusia menjadi manusia yang kehendask dan tingkah lakunya sesuai
dengan keinginan Allah. Mungkinkah kita menjadi orang yang bertauhid seperti
yang dikehendaki Allah? Insya Allah, dengan berdoa dan memohon taufik dari-Nya disertai
dengan upaya dan keseriusan dalam mempelajari dan mengamalkan Tauhid kita bisa
mencapai ke arah itu minimal pemahaman tauhid kita tidak melenceng dari
rambu-rambu yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallohu 'alaihi Wasallam.
Semua
itu memerlukan pemahaman yang benar akan tauhid dari sumbernya yang autentik
yaitu Alquran dan Sunah serta kitab-kitab aqidah yang disusun oleh para ulama yang
robbaniyyun.
Untuk
mendapatkan pemahaman yang benar dari sumber ilmu yang autentik, maka perlu
merujuk kepada pehamaman generasi teladan umat yaitu generasi sahabat.
Kelurusan dan keteladanannya dalam beragama dan beraqidah tidak diragukan lagi
karena mereka mewarisi apa yang telah diajarkan Rasulullah Shallallohu 'alaihi
Wasallam.
Allah
telah memberikan penilaian terhadap generasi tersebut akan keteladanan dan
keutamaannya dari umat-umat atau generasi-generasi lainnya. Allah telah
berfirman,
"Kalian
adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma'ruf (baik)dan mencegah kepada yang mungkar (jahat) dan beriman kepada Allah."
(Ali Imran: 110).
Demikian
juga sabda Rasulullah Shallallohu 'alaihi Wasallam:
"Sebaik-baik
generasi ialah generasiku (generasi yang sejaman dengan Rasulullah Shallallohu
'alaihi Wasallam yakni para sahabat), kemudian generasi sesudah mereka
(generasi yang belajar Islam dari sahabat, atau disebut generasi tabi'in),
kemudian generasi yang sesudah mereka (generasi yang belajar Islam dari
tabi'in, atau disebut generasi tabi'it tabi'in) kemudian setelah itu datang
pula kaum-kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya (yakni sudah banyak
orang yang tidak bisa dipercaya sehingga memberi persakssian dan sumpah tanpa
diminta dan persaksian serta sumpahnya itu palsu)." (HR Bukhari).
Jadi
generasi umat yang dapat dijadikan suri tauladan adalah tiga generasi semenjak
generasi Rasulullah Shallallohu 'alaihi Wasallam sampai generasi tabi'it
tabiin, yaitu:
1.
Generasi sejaman dengan Rasulullah Shallallohu 'alaihi Wasallam yakni para sahabat).
2.
Generasi sesudah mereka: tabi'in.
3.
Generasi yang sesudah mereka : tabi'it tabi'in, sampai abad ke-3 H.
Inilah
tiga generasi pertama umat Islam, generasi yang terpercaya dalam menyampaikan
agama Allah. Kepada merekalah kita merujuk segala pemahaman agama Islam ini
yang benar dan lurus, melalui merekalah kita mengambil ilmu syariat agama ini
yang telah Rasulullah saw ajarkan dan mereka ini adalah generasi yang
menumbuhkan sunnah-sunnah Rasulullah saw.
Banyak
sekali sumber-sumber rujukan ilmu agama yang telah diwariskan oleh generasi
kaum salaf. Dan juga generasi sesudahnya yang mengikuti jejaknya yang lurus dan
dapat dipercaya.
A.
Tauhid Merupakan Dakwah Semua Rasul
Bahwa
semua rasul yang diutus kepada umat manusia mempunyai kesamaan tujuan adalah
sebuah fakta mendasar yang mesti diketahui setiap Muslim. Hal itu dijelaskan
dengan rinci oleh Allah dalam firmannya di beberapa tempat dalam Alquran.
Firman
Allah tentang rasul pertama, Nuh as;
"Sesungguhnya
Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkat: 'Wahai kaumku sembahlah
Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selan-Nya. Sesungguhnya kalau kamu
tidak menyembah Allah aku takut kamu akan di timpa azab hari yang besar
(kiamat)." (Al-A'raf: 59)
Firman
Allah menjelaskan tentang perkataan Hud as kepada kaumnya;
"Dan
Kami telah mengutus kepada 'Ad saudara mereka Hud, ia berkata: 'Hai kaumku
sembahlah Allah sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa
kamu tidak bertakwa kepadanya." (Al-A'raf: 65)
Firman
Allah tentang perkataan Saleh as kepada kaumnya;
"Dan
Kami telah mengutus kepada kaum Tsamud saudara mereka, Saleh. Ia berkata: 'Hai
kaumku sembahlah Allah sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selan-Nya."
(Al-A'raf: 73)
Firman
Allah tentang perkataan Su'aib kepada kaumnya;
"Dan
Kami telah mengutus kepada penduduk Madyan saudara mereka, Su'aib. Ia berkata,
'Hai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu
selain-Nya." (Al-A'raf: 85)
Penjelasan
Allah tentang diutusnya setiap rasul
"Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu." (An-Nahl: 36)
Penjelasan
Allah tentang rasul-rasul sebelum Muhammad
"Dan
Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan kami wahyukan
kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang Haq) melainkan Aku, maka
sembahlah oleh mu sekalian akan Aku." (Al-Anbiya: 25)
Dari
uraian di atas maka kewajiban seorang Muslim yang pertama dan utama adalah
menauhidkan Allah SWT dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad saw adalah utusannya,
dengan menunaikan kewajiban-kewajiban yang dicakup oleh kalimat sahadatain itu.
B. Urgensi Tauhid dan kaitannya
dalam penghapusan Dosa-dosa
Firman
Allah:
"Orang-orang
yang beriman dan tidak mencampuradukan iman mereka dengan kezaliman (sirik),
mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah
orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-Anfal: 82)
Abdullah
ra ia berkata, "Ketika ayat ini turun kami berkata kepada Rasulullah Shallallohu
'alaihi Wasallam, 'Wahai Rasulullah, siapakah di antara kami yang tidak
menzalimi dirinya?' Beliau bersabda, 'Bukanlah maksudnya seperti yang kalian
katakan (firman Allah: 'Yang tidak mencampuradukan iman mereka') maksudnya
adalah syirik, tidakkah kalian mendengar perkataan Lukman kepada anaknya: 'Hai
anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan
Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar." (HR Bukhari, Muslim)
Dari
Ubadah bin Shamit ra ia berkata Rasulullah saw bersabda, "Barang siapa
bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah tiada sekutu baginya dan Muhammad
adalah hamba dan Rasulnya, dan bahwa Isa as adalah hamba Allah dan Rasulnya, ia
adalah kalimat-Nya yang dianugerahkan kepada Maryam sebagai ruh dari-Nya, dan
bersaksi bahwa surga dan neraka adalah kebenaran yang haq, maka Allah akan
memasukkannya kedalam surga dengan amalan apapun yang pernah ia kerjakan."
(HR Bukhari, Muslim)
Hadits
Itban ra meriwayatkan bahwa Allah mengharamkan neraka terhadap orang yang
berkata, "Laa iLaaha illaLLoh (Tiada Tuhan yang berhak disembah selain
Allah) dengan ikhlas karena Allah." (HR Bukari, Muslim)
Demikianlah,
hadis-hadis di atas juga yang semisal dengannya menjelaskan keutamaan kalimat
tauhid, tatapi keutamaan tsb tidakdapat diraih hanya dengan sekadar ucapan yang dilafalkan
mulut semata, namun ia memerlukan konsekwensi dari orang yang mengucapkannya.
Semoga
Allah menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang bertauhid dengan benar
dan menutup kehidupan kita dengan tauhid.
“Barang
siapa yang kalimat terakhirnya adalah Laa ilaha illaLloh niscaya ia masuk
surga.” Ya Allah, ya Robbi karuniakanlah hamba nikmat tsb sesungguhnya Engkau
Maha Pemberi Karunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar