Minggu, 19 Maret 2017

Manfaat Mempelajari dan Menerapkan Tauhid

Manfaat Mempelajari dan Menerapkan Tauhid

Sebagai seorang Muslim kita mesti membekali diri dengan ilmu dan keterampilan yang berguna untuk masa depan kita. Kita boleh memilih satu disiplin ilmu yang sesuai dengan minat dan bakat kita. Namun, ada satu ilmu yang mseti dikuasai dan dimiliki oleh setiap Muslim. Ilmu tsb adalah ilmu tauhid. Ya, ilmu tauhid, ilmu yang paling besar mafaatnya untuk masa depan setiap manusia. Pentingnya tauhid dalam kehidupan seorang muslim sangatlah besar. Ia sebagai dasar utama atau fondasi yang di atasnya dibangun seluruh ajaran Islam.
Selama masa dakwahnya, Nabi kita Shallallohu 'alaihi Wasallam menjalani masa dakwah di Mekkah selama 13 tahun dan di Madinah selama 10 tahun. Nah, selama periode dakwah yang beliau lakukan di Makkah yaitu 13 tahun, sebagian besar perhatian dan jerih payah beliau difokuskan untuk menyeru umat kepada tauhid dan membina tauhid para sahabatnya. Ini menegaskan betapa tauhid sangat urgen pengaruhnya dalam kehhidupan manusia. Ayat-ayat Alquran yang diturunkan Allah pada fase itu fokus utamanya berbicara tentang tauhid. Lihatlah surat-surat yang dinuzulkan Allah di Mekkah, seperti surat al-Mulk, Yaasiin, al-Waqi’ah, ar-Rahmaan, al-Hadiid, Qoof, al-Haaqqah, al-Qiyamah, adz-Dzariyat dll. Tema utama surat-surat tsb adalah tentang Tauhid, kabar gembira bagi hamba-hamba yang menerima tauhid yaitu surga yang kekal abadi, dan ancaman bagi mereka yang menolak tauhid yaitu siksa yang abadi.
Satu catatan penting, siapa saja yang membaca surat-surat tsb dengan disertai tadabbur niscaya akan merasakan suatu nuansa tersendiri yang khas , syahdu dan menentramkan hati. Surat-surat tsb mengetuk sanubari orang yang membacanya untuk merenungkan keagungan Allah, bukti-bukti keesaan-Nya, dan membuat kita berkelana di alam surga yang luas atau meliput adzab neraka yang dahsyat.
Tidak heran jika para sahabat yang masuk Islam di Mekkah merasakan getaran-getaran wahyu Ilahi tsb dalam hati--hati mereka sehingga membuat mereka khusyu’, kokoh aqidahnya dan mantap tauhidnya.
Generasi sahabat, mereka yang dibina Rasulullah Shallallohu 'alaihi Wasallam adalah manusia-manusia yang bertauhid, yang tidak dijumpai di permukaan bumi ini sebuah genarasi yang menyerupai mereka, baik sebelum dan sesudahnya.
Tauhid mampu merubah manusia menjadi manusia yang kehendask dan tingkah lakunya sesuai dengan keinginan Allah. Mungkinkah kita menjadi orang yang bertauhid seperti yang dikehendaki Allah? Insya Allah, dengan berdoa dan memohon taufik dari-Nya disertai dengan upaya dan keseriusan dalam mempelajari dan mengamalkan Tauhid kita bisa mencapai ke arah itu minimal pemahaman tauhid kita tidak melenceng dari rambu-rambu yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallohu 'alaihi Wasallam.
Semua itu memerlukan pemahaman yang benar akan tauhid dari sumbernya yang autentik yaitu Alquran dan Sunah serta kitab-kitab aqidah yang disusun oleh para ulama yang robbaniyyun.
Untuk mendapatkan pemahaman yang benar dari sumber ilmu yang autentik, maka perlu merujuk kepada pehamaman generasi teladan umat yaitu generasi sahabat. Kelurusan dan keteladanannya dalam beragama dan beraqidah tidak diragukan lagi karena mereka mewarisi apa yang telah diajarkan Rasulullah Shallallohu 'alaihi Wasallam.

Allah telah memberikan penilaian terhadap generasi tersebut akan keteladanan dan keutamaannya dari umat-umat atau generasi-generasi lainnya. Allah telah berfirman,

"Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf (baik)dan mencegah kepada yang mungkar (jahat) dan beriman kepada Allah." (Ali Imran: 110).

Demikian juga sabda Rasulullah Shallallohu 'alaihi Wasallam:
"Sebaik-baik generasi ialah generasiku (generasi yang sejaman dengan Rasulullah Shallallohu 'alaihi Wasallam yakni para sahabat), kemudian generasi sesudah mereka (generasi yang belajar Islam dari sahabat, atau disebut generasi tabi'in), kemudian generasi yang sesudah mereka (generasi yang belajar Islam dari tabi'in, atau disebut generasi tabi'it tabi'in) kemudian setelah itu datang pula kaum-kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya (yakni sudah banyak orang yang tidak bisa dipercaya sehingga memberi persakssian dan sumpah tanpa diminta dan persaksian serta sumpahnya itu palsu)." (HR Bukhari).
Jadi generasi umat yang dapat dijadikan suri tauladan adalah tiga generasi semenjak generasi Rasulullah Shallallohu 'alaihi Wasallam sampai generasi tabi'it tabiin, yaitu:
1. Generasi sejaman dengan Rasulullah Shallallohu 'alaihi Wasallam yakni para  sahabat).
2. Generasi sesudah mereka: tabi'in.
3. Generasi yang sesudah mereka : tabi'it tabi'in, sampai abad ke-3 H.

Inilah tiga generasi pertama umat Islam, generasi yang terpercaya dalam menyampaikan agama Allah. Kepada merekalah kita merujuk segala pemahaman agama Islam ini yang benar dan lurus, melalui merekalah kita mengambil ilmu syariat agama ini yang telah Rasulullah saw ajarkan dan mereka ini adalah generasi yang menumbuhkan sunnah-sunnah Rasulullah saw.
Banyak sekali sumber-sumber rujukan ilmu agama yang telah diwariskan oleh generasi kaum salaf. Dan juga generasi sesudahnya yang mengikuti jejaknya yang lurus dan dapat dipercaya.

A. Tauhid Merupakan Dakwah Semua Rasul
Bahwa semua rasul yang diutus kepada umat manusia mempunyai kesamaan tujuan adalah sebuah fakta mendasar yang mesti diketahui setiap Muslim. Hal itu dijelaskan dengan rinci oleh Allah dalam firmannya di beberapa tempat dalam Alquran.

Firman Allah tentang rasul pertama, Nuh as;
"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkat: 'Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selan-Nya. Sesungguhnya kalau kamu tidak menyembah Allah aku takut kamu akan di timpa azab hari yang besar (kiamat)." (Al-A'raf: 59)

Firman Allah menjelaskan tentang perkataan Hud as kepada kaumnya;
"Dan Kami telah mengutus kepada 'Ad saudara mereka Hud, ia berkata: 'Hai kaumku sembahlah Allah sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepadanya." (Al-A'raf: 65)

Firman Allah tentang perkataan Saleh as kepada kaumnya;
"Dan Kami telah mengutus kepada kaum Tsamud saudara mereka, Saleh. Ia berkata: 'Hai kaumku sembahlah Allah sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selan-Nya." (Al-A'raf: 73)

Firman Allah tentang perkataan Su'aib kepada kaumnya;
"Dan Kami telah mengutus kepada penduduk Madyan saudara mereka, Su'aib. Ia berkata, 'Hai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya." (Al-A'raf: 85)

Penjelasan Allah tentang diutusnya setiap rasul
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu." (An-Nahl: 36)

Penjelasan Allah tentang rasul-rasul sebelum Muhammad
"Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang Haq) melainkan Aku, maka sembahlah oleh mu sekalian akan Aku." (Al-Anbiya: 25)

Dari uraian di atas maka kewajiban seorang Muslim yang pertama dan utama adalah menauhidkan Allah SWT dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad saw adalah utusannya, dengan menunaikan kewajiban-kewajiban yang dicakup oleh kalimat sahadatain itu.

B. Urgensi Tauhid dan kaitannya dalam penghapusan Dosa-dosa

Firman Allah:
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukan iman mereka dengan kezaliman (sirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-Anfal: 82)
Abdullah ra ia berkata, "Ketika ayat ini turun kami berkata kepada Rasulullah Shallallohu 'alaihi Wasallam, 'Wahai Rasulullah, siapakah di antara kami yang tidak menzalimi dirinya?' Beliau bersabda, 'Bukanlah maksudnya seperti yang kalian katakan (firman Allah: 'Yang tidak mencampuradukan iman mereka') maksudnya adalah syirik, tidakkah kalian mendengar perkataan Lukman kepada anaknya: 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar." (HR Bukhari, Muslim)

Dari Ubadah bin Shamit ra ia berkata Rasulullah saw bersabda, "Barang siapa bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah tiada sekutu baginya dan Muhammad adalah hamba dan Rasulnya, dan bahwa Isa as adalah hamba Allah dan Rasulnya, ia adalah kalimat-Nya yang dianugerahkan kepada Maryam sebagai ruh dari-Nya, dan bersaksi bahwa surga dan neraka adalah kebenaran yang haq, maka Allah akan memasukkannya kedalam surga dengan amalan apapun yang pernah ia kerjakan." (HR Bukhari, Muslim)
Hadits Itban ra meriwayatkan bahwa Allah mengharamkan neraka terhadap orang yang berkata, "Laa iLaaha illaLLoh (Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah) dengan ikhlas karena Allah." (HR Bukari, Muslim)
Demikianlah, hadis-hadis di atas juga yang semisal dengannya menjelaskan keutamaan kalimat tauhid, tatapi keutamaan tsb tidakdapat diraih  hanya dengan sekadar ucapan yang dilafalkan mulut semata, namun ia memerlukan konsekwensi dari orang yang mengucapkannya.
Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang bertauhid dengan benar dan menutup kehidupan kita dengan tauhid.
“Barang siapa yang kalimat terakhirnya adalah Laa ilaha illaLloh niscaya ia masuk surga.” Ya Allah, ya Robbi karuniakanlah hamba nikmat tsb sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Karunia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar