Rabu, 15 Maret 2017

Menjaga shalat Yang Lima Waktu



Menjaga shalat Yang Lima Waktu

Shalat adalah rukun Islam yang paling besar, tiang agama yang di atasnya pondasi agama ini dibangun dan ditegakkan. Maka barangsiapa yang menunaikannya maka dia telah menegakkan agama dan barangsiapa yang menyia-nyiakannya maka dia telah menghancurkan agama ini. Menjaga shalat terwujud dengan menunaikan shalat secara sempurna baik rukun-rukunnya, syarat-syaratnya dan perkara-perkara yang wajib di dalam shalat maupun yang sunnah-sunnah.
            Ketahuilah bahwa  sesungguhnya Allah telah mewajibkan shalat kepada Nabi kita shallallohu alaihi wasallam tanpa perantara malaikat, diwajibkan di atas langit, pada mulanya diwajibkan lima puluh shalat kemudian dikurangi menjadi lima shalat dalam pengerjaannya namun dengan keutamaan yang sama dalam pahalanya yaitu lima puluh dalam timbangan dan balasan pahala. Tidakkah hal ini sebagai bukti yang nyata yang menjelaskan tentang keutamaan dan perhatian Islam terhadapnya?. Shalat adalah penghubung antara seorang hamba dengan Robbnya, dia berdiri tegak di hadapan Robbnya dengan penuh pengagungan dan  penghormatan, sambil membaca ayat-ayat Allah, bertasbih mengagungkan Allah dan memohon kepada-Nya akan kebutuhannya baik dalam urusan agama atau dunia.
            Maka seharusnya bagi orang yang berhubungan dengan Robbnya untuk melupakan segala sesuatu kecuali Allah, dan pada saat suasana seperti ini hendaklah pribadinya tunduk, khusyu’ dalam ibadah, tenang dan nyaman, karena suasana jiwa seperti inilah yang menyebabkan shalat sebagai penghibur bagi orang-orang yang mengenal Robbnya sebagaimana sabda Rasulullah shallallohu alaihi wasallam “Dijadikan kesenanganku pada shalat.” (HR. Ahmad dan Al-Nasa’i). Shalat inilah yang menjadi penghibur, dan inilah maksud firman Allah Ta’ala: Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar”. (QS. Al-Ankabut: 45).
Banyak orang yang shalat namun tidak mengetahui apakah manfaat shalat yang sebenarnya dan tidak pula menghormatinya dengan semestinya, karena sebab itulah shalat menjadi berat bagi mereka dan tidak menjadi penyejuk bagi mereka, tidak menjadi penenang bagi jiwa serta tidak menjadi cahaya bagi hati yang gelap. Banyak orang yang mengerjakan shalat dengan tergesa-gesa mirp burung gagak yang mematuk makanannya, tidak menyempurnakan tuma’ninah (tenang sejenak dalam gerakan-gerakan shalat), orang yang seperti ini tidak mendapatkan apapun dari shalatnya walaupun mereka mengerjakannya secara rutin, sebab khusyu dan tuma’ninah dalam menjalankan shalat termasuk di antara rukun-rukun shalat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menegur seorang lelaki yang tidak menyempurnakan thuma’ninah dalam shalatnya: Kembalilah lalu ulangi shalatmu sebab engkau belum shalat. Maka diapun kembali mengerjakan shalat beberapa kali dan pada setiap kali dia mengualangi shalatnya beliau mengatakan: Kembali ulangi shalatmu sebab engkau belum shalat”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh sebab itulah shalat sangat sulit dan berat bagi orang yang mengerjakan shalat seperti ini sebagaimana dijelaskan di dalam firman Allah Sw:
“Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (QS. Al-Baqarah: 45).
            Karena itu, wahai kaum muslimin, tegakkan shalat dan jagalah shalat tersebut, kerjakan dengan penuh kekhusyu’an, janganlah memainkan anggota badan dan pakaian saat menjalankan shalat, dan jangan pula meremehkan dan menyia-nyiakan shalat atau mengakhirkannya dari waktunya. Sebab tidak ada orang yang meninggalkan shalat, atau meremehkanya atau menyia-nyiakannya kecuali orang yang telah ditetapkan siksa yang pedih baginya. Orang yang meninggalkan shalat adalah orang yang dimurkai dan mati dalam keadaan menanggalkan keIslamannya.
            Allah telah memperingatkan kita dari menyia-nyiakan shalat dan meremehkannya. Dia berfirman:
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. (QS. Maryam: 59).
Alibin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah seorang hamba meninggalkan shalat dan tidak pula mengerjakannya kecuali akan ditulis pada wajahnya orang ini telah keluar dari rahmat Allah Sw dan saya berlepas diri darinya”.
            Wahai hamba Allah, bertqwalah kepada-Nya dan berusahalah untuk mengerjakan shalat dengan cara berjama’ah dengannya, niscaya Allah akan memberikan kepada Anda rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka.
            Jagalah shalat dan kerjakanlah dengan cara yang khusyu’, sebab Allah telah berfirman di dalam kitab -Nya:
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Mu’minun: 1-11).
Saudaraku, marilah kita merenungi hakikat shalat ini, ia adalah penghubung (sarana komunikasi) antara seorang hamba dengan Robbnya. Dia berdiri di hadapan Robbnya lima kali sehari, dia bermunajat pada saat shalat tersebut, sambil memohon kepada Allah Ta'ala segala kebutuhannya. Seorang muslim berdiri tegak di hadapan Robbnya agar dirinya dekat dengan Pencipta yang disembah dan dicintainya. Dia berdiri tegak di hadapan Robbnya guna membuang segala keletihan dan kekeruhan serta kecemasan hidup lalu dia mengadukan permasalahannya kepada Allah. Oleh sebab itulah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terkadang berkata kepada Bilal: “Kumandangkanlah adzan wahai Bilal agar kita merasakan ketenteraman dengan shalat”. Jadi shalat adalah sumber ketentraman hati dan ketenangan jiwa karena di dalam shalat terdapat dzikir-dzikir yang menentramkan hati seorang mukmin.
Dan pada saat seorang hamba tidak merasakan kelezatan dalam mengerjakan shalatnya maka ia akan menyia-nyiakan ibadah ini, baik dalam menunaikannya atau dalam menyempurnakan rukun-rukun dan sunnah-sunnahnya
Ia akan sering meninggalkan shalat, jika dia datang mengerjakan shalat maka ia melakukannya seperti gagak yang mematuk makanan, tidak menyempurnakan tuma’ninahnya dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit saja.
Ia memasuki shalat dengan jasadnya semata, tidak dengan hatinya, hatinya lalu lalang ke sana ke mari, berpikir tentang urusan dunianya, bagaimanakah orang seperti ini bisa merasakan kelezatan beribadah?. Bagaimana mungkin shalat yang seperti ini dapat mencegah pelakunya dari kemungkaran atau menambah keimanan.
Fakta inilah yang sering terjadi dan menimpa banyak orang, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah semata. Seyogyanya bagi orang yang berdiri tegak di hadapan Robbnya untuk menampakkan rasa butuhnya kepada Robbnya, selalu memohon kepada-Nya agar diberi pertolongan. Dan hendaklah dia juga menghadirkan kesadaran dirinya yang sedang bermunajat dan berkomunikasi dengan Robbnya dan meresapi makna apa yang dibacanya baik dari ayat-ayat Al-Qur’an, tasbih dan takbir. Sebab semua itu dapat membantunya untuk menjalankan shalat secara khusyu’.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar