Menjaga
shalat Yang Lima Waktu
Shalat adalah rukun Islam
yang paling besar, tiang agama yang di atasnya pondasi agama ini dibangun dan
ditegakkan. Maka barangsiapa yang menunaikannya maka dia telah menegakkan agama
dan barangsiapa yang menyia-nyiakannya maka dia telah menghancurkan agama ini.
Menjaga shalat terwujud dengan menunaikan shalat secara sempurna baik
rukun-rukunnya, syarat-syaratnya dan perkara-perkara yang wajib di dalam shalat
maupun yang sunnah-sunnah.
Ketahuilah bahwa
sesungguhnya Allah telah
mewajibkan shalat kepada Nabi kita shallallohu alaihi wasallam tanpa
perantara malaikat, diwajibkan di atas langit, pada mulanya diwajibkan lima
puluh shalat kemudian dikurangi menjadi lima shalat dalam pengerjaannya namun
dengan keutamaan yang sama dalam pahalanya yaitu lima puluh dalam timbangan dan
balasan pahala. Tidakkah hal ini sebagai bukti yang nyata yang menjelaskan
tentang keutamaan dan perhatian Islam terhadapnya?. Shalat adalah penghubung
antara seorang hamba dengan Robbnya, dia berdiri tegak di hadapan Robbnya
dengan penuh pengagungan dan
penghormatan, sambil membaca ayat-ayat Allah, bertasbih mengagungkan
Allah dan memohon kepada-Nya akan kebutuhannya baik dalam urusan agama atau
dunia.
Maka seharusnya bagi orang yang berhubungan dengan Robbnya
untuk melupakan segala sesuatu kecuali Allah, dan pada saat suasana seperti ini
hendaklah pribadinya tunduk, khusyu’ dalam ibadah, tenang dan nyaman, karena
suasana jiwa seperti inilah yang menyebabkan shalat sebagai penghibur bagi
orang-orang yang mengenal Robbnya sebagaimana sabda Rasulullah shallallohu alaihi wasallam “Dijadikan
kesenanganku pada shalat.” (HR. Ahmad dan Al-Nasa’i). Shalat inilah yang
menjadi penghibur, dan inilah maksud firman Allah Ta’ala: Sesungguhnya salat itu mencegah
dari (perbuatan-perbuatan) keji
dan mungkar”. (QS. Al-Ankabut:
45).
Banyak orang yang shalat
namun tidak mengetahui apakah manfaat shalat yang sebenarnya dan tidak pula
menghormatinya dengan semestinya, karena sebab itulah shalat menjadi berat bagi
mereka dan tidak menjadi penyejuk bagi mereka, tidak menjadi penenang bagi jiwa
serta tidak menjadi cahaya bagi hati yang gelap. Banyak orang yang mengerjakan
shalat dengan tergesa-gesa mirp burung gagak yang mematuk makanannya, tidak
menyempurnakan tuma’ninah (tenang sejenak dalam gerakan-gerakan shalat), orang
yang seperti ini tidak mendapatkan apapun dari shalatnya walaupun mereka
mengerjakannya secara rutin, sebab khusyu dan tuma’ninah dalam menjalankan
shalat termasuk di antara rukun-rukun shalat. Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam pernah menegur seorang lelaki yang tidak menyempurnakan thuma’ninah
dalam shalatnya: Kembalilah lalu ulangi shalatmu sebab engkau belum shalat.
Maka diapun kembali mengerjakan shalat beberapa kali dan pada setiap kali dia
mengualangi shalatnya beliau mengatakan: Kembali ulangi shalatmu sebab engkau
belum shalat”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh sebab itulah shalat
sangat sulit dan berat bagi orang yang mengerjakan shalat seperti ini
sebagaimana dijelaskan di dalam firman Allah Sw:
“Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.
(QS. Al-Baqarah: 45).
Karena itu, wahai kaum muslimin, tegakkan shalat dan
jagalah shalat tersebut, kerjakan dengan penuh kekhusyu’an, janganlah memainkan
anggota badan dan pakaian saat menjalankan shalat, dan jangan pula meremehkan
dan menyia-nyiakan shalat atau mengakhirkannya dari waktunya. Sebab tidak ada
orang yang meninggalkan shalat, atau meremehkanya atau menyia-nyiakannya
kecuali orang yang telah ditetapkan siksa yang pedih baginya. Orang yang
meninggalkan shalat adalah orang yang dimurkai dan mati dalam keadaan menanggalkan
keIslamannya.
Allah telah memperingatkan kita dari menyia-nyiakan
shalat dan meremehkannya. Dia berfirman:
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek)
yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya,
maka mereka kelak akan menemui kesesatan. (QS. Maryam: 59).
Alibin Abi Thalib
radhiyallahu 'anhu berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah seorang hamba
meninggalkan shalat dan tidak pula mengerjakannya kecuali akan ditulis pada
wajahnya orang ini telah keluar dari rahmat Allah Sw dan saya berlepas diri darinya”.
Wahai hamba Allah, bertqwalah kepada-Nya dan berusahalah
untuk mengerjakan shalat dengan cara berjama’ah dengannya, niscaya Allah akan
memberikan kepada Anda rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka.
Jagalah shalat dan kerjakanlah dengan cara yang khusyu’,
sebab Allah telah berfirman di dalam kitab -Nya:
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
(yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang
menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan
orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka
sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di
balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang
yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang
yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,
(yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Mu’minun: 1-11).
Saudaraku, marilah kita
merenungi hakikat shalat ini, ia adalah penghubung (sarana komunikasi) antara
seorang hamba dengan Robbnya. Dia berdiri di hadapan Robbnya lima kali sehari,
dia bermunajat pada saat shalat tersebut, sambil memohon kepada Allah Ta'ala segala
kebutuhannya. Seorang muslim berdiri tegak di hadapan Robbnya agar dirinya
dekat dengan Pencipta yang disembah dan dicintainya. Dia berdiri tegak di
hadapan Robbnya guna membuang segala keletihan dan kekeruhan serta kecemasan
hidup lalu dia mengadukan permasalahannya kepada Allah. Oleh sebab itulah
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terkadang berkata kepada Bilal: “Kumandangkanlah
adzan wahai Bilal agar kita merasakan ketenteraman dengan shalat”. Jadi shalat
adalah sumber ketentraman hati dan ketenangan jiwa karena di dalam shalat
terdapat dzikir-dzikir yang menentramkan hati seorang mukmin.
Dan pada saat seorang
hamba tidak merasakan kelezatan dalam mengerjakan shalatnya maka ia akan
menyia-nyiakan ibadah ini, baik dalam menunaikannya atau dalam menyempurnakan
rukun-rukun dan sunnah-sunnahnya
Ia akan sering
meninggalkan shalat, jika dia datang mengerjakan shalat maka ia melakukannya
seperti gagak yang mematuk makanan, tidak menyempurnakan tuma’ninahnya dan tidak
mengingat Allah kecuali sedikit saja.
Ia memasuki shalat dengan
jasadnya semata, tidak dengan hatinya, hatinya lalu lalang ke sana ke mari,
berpikir tentang urusan dunianya, bagaimanakah orang seperti ini bisa merasakan
kelezatan beribadah?. Bagaimana mungkin shalat yang seperti ini dapat mencegah pelakunya
dari kemungkaran atau menambah keimanan.
Fakta inilah yang sering
terjadi dan menimpa banyak orang, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan
Allah semata. Seyogyanya bagi orang yang berdiri tegak di hadapan Robbnya untuk
menampakkan rasa butuhnya kepada Robbnya, selalu memohon kepada-Nya agar diberi
pertolongan. Dan hendaklah dia juga menghadirkan kesadaran dirinya yang sedang
bermunajat dan berkomunikasi dengan Robbnya dan meresapi makna apa yang
dibacanya baik dari ayat-ayat Al-Qur’an, tasbih dan takbir. Sebab semua itu dapat
membantunya untuk menjalankan shalat secara khusyu’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar