Nasihat Ulama untuk Menangkal Waswas Setan
Hati-hatilah
anda dari was-was dalam segala sesuatu, yakinlah itu dari setan. Bila anda
mendapati suatu was-was dalam jiwa anda, berlindunglah kepada Allah dari setan
serta teruskan apa yang sedang anda lakukan. Berketetapan hatilah hingga
membuat jengkel setan musuh anda. Hingga pada akhirnya ia tak dapat menguasai
anda setelah sebelumnya dapat melakukannya karena sikap lembek anda kepadanya.
Kita mohon perlindungan kepada Allah dari kejelekan dan tipu daya setan.”
Seseorang dapat
berdoa dengan doa yang Allah mudahkan baginya, seperti mengatakan:
اللَّهُمَّ أَعِذْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ،
اللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ،
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ ،اللَّهُمَّ
احْفَظْنِي مِنْ مَكَائِدِ عَدُوِّكَ الشَّيْطَانِ
“Ya Allah,
lindungilah aku dari setan. Ya Allah, jagalah aku dari setan. Ya Allah,
tolonglah aku utk mengingat-Mu (berdzikir kepada-Mu), utk bersyukur kepada-Mu
& membaguskan ibadah kepada-Mu. Ya Allah, jagalah aku dari tipu daya
musuh-Mu (yaitu) setan.”
Hendaklah ia
memperbanyak dzikir kepada Allah Ta'ala,
banyak membaca Al-Qur`an & berta’awwudz kepada Allah ketika mendapatkan
was-was, sekalipun ia sedang mengerjakan shalat. Bila gangguan was-was itu
mendominasinya dalam shalat, hendaklah ia meludah (meniup dengan sedikit ludah)
ke kiri tiga kali dan berta’awwudz dari gangguan setan sebanyak tiga kali.
Ketika seorang sahabat
yaitu ’Utsman bin Abil ’Ash Ats-Tsaqafi mengeluh kepada Rasulullah shallallohu
alaihi wasallam tentang was-was yang didapatkannya di dalam shalat, beliau shallallohu
alaihi wasallam memerintahkannya untuk meludah ke kiri tiga kali dan berta’awwudz kepada Allah dari gangguan setan dalam
keadaan ia mengerjakan shalat. Utsman pun melakukan saran Rasulullah shallallohu
alaihi wasallam tersebut kemudian Allah pun menghilangkan gangguan yang didapatinya.
Kesimpulannya,
bila seorang mukmin dan mukminah diuji dengan was-was, hendaknya
bersungguh-sungguh meminta kesembuhan dan keselamatan kepada Allah dari
gangguan tersebut. Ia banyak ber-ta’awwudz kepada Allah Ta'ala dari setan,
berupaya menepis perasaan was-was tersebut, tak memedulikan serta menurutinya,
baik di dalam maupun di luar shalatnya. Bila berwudhu, ia melakukannya dengan mantap
dan tak mengulang-ulangi wudhunya. Bila sedang shalat ia mantap mengerjakannya dan
tak mengulang-ulangi shalatnya. Bila bertakbir (takbiratul ihram) ia
mengerjakannya dengan mantap dan tak mengulangi takbirnya. Semuanya dalam rangka
menyelisihi bisikan musuh Allah Ta'ala serta dalam rangka menyalakan permusuhan
terhadapnya.
Demikianlah
yang wajib dilakukan seorang mukmin, agar ia menjadi musuh bagi setan,
memeranginya, menepisnya, dan tak tunduk kepadanya. Bila setan membisikkan
kepada anda bahwa anda belum berwudhu dan belum shalat (dengan tujuan
menyusupkan was-was hingga anda mengulang-ulangi wudhu dan shalat karena merasa
belum mengerjakannya dengan benar), padahal anda tahu anda telah berwudhu, anda
lihat sisa-sisa air pada tangan anda & anda tahu anda telah mengerjakan
shalat, maka janganlah menaati musuh Allah l itu. Yakinlah anda telah shalat.
Yakinlah anda telah berwudhu sebelumnya. Jangan anda ulang-ulangi wudhu dan shalat
anda serta ber-ta’awwudz-lah kepada Allah Ta'ala dari musuh-Nya.
Wajib bagi
seorang mukmin untuk kuat dalam melawan musuh Allah Ta'ala (yaitu setan) hingga
musuh itu tidak mampu lagi mengalahkan dan
mengganggunya. Karena ketika setan dapat menguasai dan mengalahkan seseorang,
ia akan menjadikan orang itu seperti orang gila yang dipermainkannya. Karena itu,
wajib bagi setiap mukmin dan mukminah untuk berhati-hati dari musuh Allah,
ber-ta’awwudz kepada Allah dari
kejelekan dan tipu dayanya. Hendaklah hamba mukmin itu kuat dalam melawan setan
serta bersabar dalam menangkal gangguan tersebut (tidak mudah menyerah),
sehingga ia tak menuruti setan untuk mengulangi shalatnya, wudhunya, takbirnya,
atau yang lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar