Selasa, 14 Maret 2017

SEBAB-SEBAB TERKABULNYA DOA




Sebab-sebab Terkabulnya Doa
Di antara kesempurnaan dan keagungan nikmat Alloh yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya adalah janji Alloh -dan janji-Nya pasti benar- bahwa tidaklah seseorang berdoa kepada-Nya melainkan pasti Dia akan mengabulkannya.
Alloh Ta'ala  berfirman:
“Dan Robbmu berfirman: berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina.” (QS. al-Mu’min [40]: 60)
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. al-Baqarah [2]: 186)
Doa seorang Mukmin itu tidak akan ditolak, dan yang paling baik adalah apa yang  Alloh pilihkan bagi hamba-Nya yaitu apakah doanya dikabulkan dengan segera, atau Alloh menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya di dunia ataupun di akhirat nanti, seperti menghindarkan keburukan darinya, atau Alloh akan menabungkan baginya di akhirat hal yang lebih baik dari apa yang ia minta.
Oleh karena itu, wajib bagi seorang pemohon untuk melakukan sebab-sebab terkabulnya doa, baik yang tidak tampak maupun yang tampak.
Adapun sebab-sebab yang tidak tampak adalah bertaubat terlebih dahulu (sebelum berdoa), taubat yang membersihkan dosa, mengembalikan hak-hak orang lain (jika ada padanya), mengkonsumsi makanan, minuman dan berpakaian dari yang halal, juga tempat tinggal dan kendaraan dari hasil usaha yang halal, menjauhi hal-hal yang diharamkan dan syubhat, menghadirkan hati saat berdoa, yakin kepada Alloh serta kuatnya pengharapan dan ketergantungan hati kepada-Nya, rasa takut dan tunduk, mengetuk jiwa dengan suatu ancaman Alloh, menyerahkan segala perkara kepada-Nya, dan memutus pengharapan kepada selain-Nya, seperti yang dilakukan oleh seorang beriman dari keluarga Fir’aun yang tersebut dalam surat al-Mu’min [40]: 44, serta dengan menjauhi sifat putus asa dari terkabulnya doa.
Sedangkan sebab yang tampak, adalah melakukan amal shaleh seperti sedekah terlebih dahulu, berwudhu, shalat, mengangkat kedua tangan (saat berdoa), dan berdoa pada waktu-waktu yang mustajāb sebagaimana dijelaskan oleh dalil-dalil, yaitu di dalam waktu yang mulia, kondisi yang baik dan tempat-tempat yang mulia.
Tentang mengangkat kedua tangan ketika berdoa, Rosululloh shallallohu alaihi wasallam bersabda:
(( إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا ))
“Sesungguhnya Robb kalian Maha Pemalu lagi Maha Pemurah, Dia merasa malu kepada hamba-Nya jika hamba tersebut berdoa dengan mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia menolak kedua tangan itu dalam keadaan hampa.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan al-Baihaqi, dishahihkan al-Albani)
Adapun waktu-waktu yang mulia seperti waktu yang terdapat dalam setahun sekali, seperti pada hari Arafah, pada waktu berada di tempat-tempat Masy’aril Haram (Muzdalifah, Mina) bagi orang yang sedang menunaikan ibadah haji dan pada malam lailatul qadar.
Pada bulan-bulan tertentu yaitu: bulan Ramadhan, terutama pada sepuluh hari terakhirnya.
Pada tiap mingguan, yaitu hari Jum’at mulai dari semenjak duduknya imam di atas mimbar sampai berakhirnya shalat Jum’at.
Pada saat-saat tertentu, yaitu pada waktu sahur, atau sepertiga malam yang terakhir, dan satu waktu pada hari Jum’at. Dikatakan: waktu ini adalah saat terakhir setelah ‘Ashar sebelum maghrib.
Adapun tempat-tempat yang mulia adalah Makkah dan di tempat-tempat suci ibadah haji bagi mereka yang sedang menunaikan ibadah haji.
Sedangkan kondisi-kondisi yang bagus untuk berdoa, adalah doa ketika barisan tentara mujahidin yang berjihad fi sabilillah maju menyerang, ketika turun hujan, sehabis wudhu, ketika adzan dan waktu antara adzan dan iqamat, doa ketika mendirikan shalat fardhu, pada waktu sujud, karena sedekat-dekat seorang hamba dengan Robbnya adalah ketika ia sujud, doa di akhir shalat fardhu, pada waktu berpuasa hingga berbuka, serta pada waktu berbuka puasa, doa orang yang beribadah haji hingga ia selesai dari hajinya, doa orang yang terzhalimi, doa pemimpin yang adil, doa orang tua, doa setelah membaca al-Qur’an dan setelah mengkhatamkannya, sebagaimana terdapat dalam atsar yang diriwayatkan oleh Mujahid dan lainnya, doa pada majlis-majlis dzikir dan pada forum perkumpulan kaum Muslimin, doa ketika seseorang terbangun di malam hari (karena  terganggu tidurnya) lalu membaca: Lā ilāha illallah wahdahu lā syarīka lah...(dst) lalu istighfar dan berdoa, juga pada saat terdengar bunyi ayam jantan berkokok, doa pada saat menjenguk orang sakit atau orang yang meninggal dunia, doa seorang Muslim kepada saudara sesama Muslim tanpa sepengetahuan yang didoakannya, doanya orang yang sedang bepergian, doanya orang yang dalam kondisi terdesak (kepepet), dan ini dinamakan dengan du’ā al-hāl (doa karena suatu keadaan), serta doanya orang yang berdzikir kepada Alloh Ta'ala menjelang tidur hingga dia tertidur. Dan berdasarkan riwayat, termasuk pula doa ketika melihat Ka’bah.
Berikut ini beberapa dalil tentang hal-hal di atas,
Rosululloh shallallohu alaihi wasallam bersabda:
(( أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ ))
“Saat terdekat antara seorang hamba dengan Robbnya adalah saat ia bersujud, maka perbanyaklah doa (di dalam sujud).” (HR. Muslim)
(( الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ اْلآذَانِ وَاْلإِقَامَةِ ))
“Doa tidak tertolak (jika dipanjatkan) antara adzan dan iqamah.” (HR. at-Tirmidzi, dishahihkan al-Albani)
Dari Abu Hurairah bahwa Rosululloh shallallohu alaihi wasallam bersabda:
“Robb kita turun pada setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir. Dia berfirman, ‘Siapa yang mau berdoa kepada-Ku pasti Aku kabulkan. Siapa yang mau memohon kepada-Ku pasti Aku beri. Siapa yang mau beristighfar kepada-Ku pasti Aku ampuni’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Rosululloh shallallohu alaihi wasallam juga bersabda:
(( مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ فَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ. الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ. ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى. أَوْ دَعَا اسْتُجِيبَ، فَإِنْ تَوَضَّأَ وَصَلَّى قُبِلَتْ صَلاَتُهُ ))
“Barangsiapa yang terbangun di malam hari (karena  terganggu tidurnya) lalu membaca, ‘Tiada ilah (yang berhak disembah) melainkan Alloh yang Esa tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan, milik-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Alloh, Maha Suci Alloh, tiada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Alloh, Alloh Maha Besar, dan tiada daya dan kekuatan melainkan dari Alloh.’ Kemudian membaca, ‘Ya Alloh, ampunilah aku’, atau berdoa, niscaya akan dikabulkan doanya. Jika ia berwudhu dan shalat niscaya shalatnya diterima.” (HR. al-Bukhari dan Tirmidzi)
“Ada dua (doa) yang tidak akan ditolak atau kemungkinan kecil ditolak, yaitu: (1) doa ketika dikumandangkan adzan; dan (2) doa dalam kesulitan, yaitu ketika dua pasukan telah saling menyerang.” (HR. Abu Dawud)
(( إِنَّ فِى الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّى يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْراً إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ إِيَّاهُ ...))
“Sesungguhnya pada hari Jum’at ada satu waktu, tidak ada seorang hamba Muslim pun yang bertepatan dengan saat itu ia berdiri shalat seraya memohon sesuatu kepada Alloh, melainkan Alloh akan memberikannya kepadanya. (Waktu itu adalah setelah ‘Ashar.)” (HR. Ahmad)
(( إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ فَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ، فَإِنَّهَا رَأَتْ مَلَكًا، وَإِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الْحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا ))
“Jika kalian mendengar kokok ayam jantan, maka mintalah kepada Alloh dari karunia-Nya, karena ayam jantan itu tengah melihat malaikat. Dan jika kalian mendengar ringkikan keledai, berlindunglah kepada Alloh dari godaan setan, karena keledai itu tengah melihat setan!” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dari ‘Aisyah bahwa ia pernah bertanya, “Wahai Rosululloh, bagaimana pendapatmu jika aku tahu suatu malam adalah lailatul qodar, apa yang harus saya baca di malam itu?”. Beliau menjawab, “Bacalah:
(( اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى ))
“Ya Alloh, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah, Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah aku.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)
Dari Abu Umamah al-Bahili ia berkata, “Seseorang pernah bertanya, ‘Wahai Rosululloh, doa yang bagaimana yang paling dikabulkan?’. Beliau menjawab, ‘(Doa) di pertengahan malam yang terakhir dan di setiap akhir shalat fardhu’.” (HR. at-Tirmidzi, dihasankan oleh al-Albani)
Demikianlah uraian singkat tentang sebab-sebab terkabulnya doa, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar