Mengimani Kemahakayaan Alloh Ta'ala
Salah satu nama indah bagi Alloh Ta'ala
yang Dia perkenalkan kepada hamba-hamba-Nya adalah al-Ghaniy (Yang Maha
Kaya). Dia-lah Dzat Yang benar-benar tidak membutuhkan sesuatu pun dari
makhluk-Nya, sementara seluruh makhluk sangat berhajat dan membutuhkan
kepada-Nya.
Allah Ta'ala berfirman,
“Dan
ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqoroh [2]: 267)
Al-Ghaniy menurut lisan Arab maknanya tidak butuh kepada siapa pun.
Demikianlah halnya Alloh Ta'ala Dia tidak membutuhkan sesuatu
kepada siapa pun. Alloh Ta'ala Maha Suci lagi Maha Tinggi dari
sifat butuh kepada yang lain. Sebab, rasa butuh adalah suatu kehinaan.
Sebagaimana dikatakan, “Berhutang adalah kehinaan di siang hari dan kerisauan
di malam hari.” Karena, berhutang berarti butuh kepada yang lain. Maka Alloh Ta'ala
sangat terhindar lagi bersih dari sifat kelemahan ini. Alloh Ta'ala
berfirman,
“Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kaya
(tidak memerlukan sesuatu pun) dari semesta alam.” (QS.
Al-Ankabut [29]: 6)
Ketika Alloh Ta'ala
tidak membutuhkan kepada makhluk-Nya, maka sebaliknya, seluruh makhluk sangat
membutuhkan-Nya, setiap saat dan setiap waktu. Mereka yang beriman maupun yang
kafir, semuanya bergantung kepada-Nya. Tak ada yang sanggup membantah fakta
ini. Karena, kebutuhan seorang hamba kepada-Nya adalah sifat yang selalu
melekat. Alloh berfirman,
“Hai sekalian manusia, kalianlah yang butuh
kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi
Maha terpuji.” (QS. Fathiir [35]: 15)
Terlebih lagi insan yang beriman, ia sangat menyadari akan
kebutuhannya kepada Alloh, tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak.
Ibnu Taimiyyah berkata, “Seorang hamba dalam berbuat taat sangat membutuhkan
pertolongan Alloh dalam setiap waktunya dan untuk mengokohkan hatinya. Karena,
sesungguhnya tidak ada kekuatan dan daya upaya kecuali dengan pertolongan Alloh
Ta'ala semata.” (Majmu’ al-Fatawa: 1/171)
Ibnu Rajab
berkata, “Seorang hamba senantiasa membutuhkan pertolongan Alloh Ta'ala dalam
melaksanakan ketaatan, meninggalkan larangan dan dalam kesabaran atas semua
hal, ketika di dunia, ketika meninggalkan dunia ataupun sesudahnya, baik saat
di alam kubur ataupun di hari kiamat. Dan tidak ada yang sanggup menolongnya
kecuali hanya Alloh semata. Siapa yang
meminta tolong kepada selain-Nya –padahal semua adalah milik-Nya- maka
Alloh akan membiarkan dia bersama orang
yang dimintainya, sehingga jadilah ia
orang yang terhina.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hlm. 192-193)
Alloh telah menunjukkan bukti ketidakbutuhan-Nya dalam banyak
ayat-ayat-Nya. Salah satunya adalah bahwa Dia-lah pemilik langit dan bumi serta
semua yang ada di antara keduanya, dan Dia tidak butuh sekutu dalam
kepemilikan-Nya itu. Maka sungguh sangat keliru apabila ada orang yang mengatakan
bahwasanya ada penguasa pantai selatan, ada penguasa gunung ini dan itu, sebab
Alloh berfiman:
“Kepunyaan Alloh-lah segala yang ada di langit
dan segala yang ada di bumi. dan Sesungguhnya Alloh benar-benar Maha Kaya lagi
Maha Terpuji.” (QS. Al-Hajj [22]: 64)
Dalam
sebuah hadits qudsi, Alloh Ta'ala menjelaskan ketidakbutuhan-Nya
kepada segenap makhluk-Nya dengan
gambaran yang sangat meyakinkan. Dari Abu Dzar Al-Ghifariy radhiyallahu
'anhu, dari Nabi shallallohu alaihi wasallam, bahwa
Alloh Ta'ala berfirman,
“Wahai
hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan perlakuan dzhalim kepada diri-Ku
dan aku haramkan di antara kamu, maka janganlah kalian saling mendzhalimi.
Wahai hamba-hambaku, kalian semua adalah tersesat kecuali orang-orang yang aku
beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya akan aku beri. Wahai
hamba-hamba-Ku, kalian semua lapar kecuali orang-orang yang aku beri makan,
maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya akan Aku beri makan. Wahai
hamba-hamba-Ku, kalian semua telanjang kecuali orang yang aku beri pakaian,
maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya akan Aku beri kalian pakaian. Wahai
hamba-hamba-Ku, sungguh kalian selalu melakukan kesalahan-kesalahan pada siang
dan malam hari, maka mintalah ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu.
Wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya kalian tidak akan bisa membuat suatu bahaya
yang bisa membahayakan Aku dan sesungguhnya kalian tidak akan bisa membuat
manfaat sehingga bermanfaat bagi-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang
yang pertama hingga yang terakhir diantara kalian, baik manusia maupun jin,
semuanya bertakwa kepada-Ku seperti orang yang paling takwa diantara kalian,
hal itu tidak akan menambah sesuatu pun dalam kerajaan-Ku. Wahai
hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir di antara
kalian, baik manusia maupun jin, berhati jahat seperti hati oarng yang paling
fasik di antara kalian, maka hal itu tidak mengurangi sedikit pun dari
kerajaan-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir
di antara kalian, baik manusia maupun jin, berada dalam satu tanah yang luas,
lalu masing-masing di antara mereka meminta kepada-Ku, kemudian Aku memeberi
semua permintaan mereka, tidak lah itu mengurangi apapun yang ada di sisi-Ku,
kecuali sebagaimana air yang terambil pada sebatang jarum ketika dimasukkan
kedalam laut.” (HR. Muslim)
Semua
ketaatan yang kita lakukan pada hakikatnya kembali untuk kita. Sedangkan bila
manusia di muka bumi ini kafir semuanya dan menolak untuk taat kepada-Nya, maka
sama sekali itu tidak akan membahayakan Alloh Ta'ala. Alloh
berfirman,
“Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya
jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha
Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Al-Ankabut [29]: 6)
Juga
firman-Nya,
“Dan Musa berkata kepada
kaumnya, ‘Jika kalian dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya
mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha
Terpuji".” (QS. Ibrohim [14]: 8)
Kesesatan Kaum Yahudi
Orang-orang Yahudi adalah kaum yang
bodoh dan sesat, karena mereka menyangka bahwa Alloh Ta'ala lemah dan
membutuhkan bantuan. Mereka menganggap bahwa Alloh Ta'ala butuh
pemberian dan bantuan dari orang-orang kaya. Mahasuci Alloh dari apa yang
mereka sifati itu. Semoga Alloh Ta'ala melaknat mereka sampai hari
kiamat. Alloh Ta'ala berfirman,
“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan
orang-orang Yahudi yang mengatakan: "Sesunguhnya Allah miskin dan kami
kaya". Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka
membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada
mereka): "Rasakanlah oleh kalian azab yang membakar".” (QS. Ali ‘Imron [3]: 181)
Maka
seorang yang diminta untuk berkorban di jalan Alloh Ta'ala, harus
berkeyakinan bahwa Alloh Ta'ala tidak membutuhkannya, justru dialah
yang membutuhkan Alloh Ta'ala, Alloh menyeru kita untuk berkorban
supaya Dia memberi pahala yang berlipat ganda kepada kita dan memasukkan kita ke
dalam surga-Nya.
Buah Mengimani
Nama Alloh Ta'ala al-Ghaniy:
Diantara buah mengimani
nama Alloh Ta'ala al-Ghaniy adalah:
1.
Menanamkan
makna nama ini kedalam hati akan
menumbuhkan kesadaran diri untuk selalu bersandar kepada-Nya dalam setiap
keperluan. Karena, memang seorang hamba akan selalu membutuhkan Penciptanya,
memerlukan-Nya untuk bertahan hidup, menjadikan hidupnya bermanfaat dan
terhindar dari setiap keburukan.
2.
Dengan
meyakini ke-Mahakayaan Alloh Ta'ala seorang hamba akan memenuhi
kefakiran dan kebutuhannya dengan bergantung hanya kepada-Nya. Alloh Ta'ala
memuji Nabi dan Khalil-Nya, Ibrohim 'alaihis salam yang
sangat menyadari akan kefakirannya di hadapan Khaliknya,
“Ibrahim 'alaihis
salam berkata, ‘Dia-lah Yang memberiku makan dan minum, dan apabila aku sakit
Dialah yang menyembuhkanku, serta yang akan mematikanku, kemudian akan
menghidupkanku (kembali), dan Dia-lah yang amat kuharap untuk mengampuni
kesalahanku pada hari kiamat".” (QS.
Asy-Syu’araa [26]: 79-82)
3.
Rosululloh
shallallohu alaihi wasallam juga telah mengajarkan kepada kita sebuah
doa yang sangat bermanfaat, yaitu:
اَللَّهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِيْ
بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Ya Alloh.... cukuplah
aku dengan karunia-Mu yang halal dari apa yang Engkau haramkan, dan penuhilah
kebutuhanku dengan karunia-Mu (sehingga aku tidak butuh) kepada selain-Mu.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Demikianlah. Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah limpahkan
kepada junjungan kita Nabi Muhammad, para keluarga dan segenap sahabatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar