Jumat, 24 Maret 2017

Kemahakayaan Alloh Ta'ala



Mengimani Kemahakayaan Alloh Ta'ala

Salah satu nama indah bagi Alloh Ta'ala yang Dia perkenalkan kepada hamba-hamba-Nya adalah al-Ghaniy (Yang Maha Kaya). Dia-lah Dzat Yang benar-benar tidak membutuhkan sesuatu pun dari makhluk-Nya, sementara seluruh makhluk sangat berhajat dan membutuhkan kepada-Nya.
Allah Ta'ala berfirman,

“Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqoroh [2]: 267)
Al-Ghaniy menurut lisan Arab maknanya tidak butuh kepada siapa pun. Demikianlah halnya Alloh Ta'ala Dia tidak membutuhkan sesuatu kepada siapa pun. Alloh Ta'ala Maha Suci lagi Maha Tinggi dari sifat butuh kepada yang lain. Sebab, rasa butuh adalah suatu kehinaan. Sebagaimana dikatakan, “Berhutang adalah kehinaan di siang hari dan kerisauan di malam hari.” Karena, berhutang berarti butuh kepada yang lain. Maka Alloh Ta'ala sangat terhindar lagi bersih dari sifat kelemahan ini. Alloh Ta'ala berfirman,

 “Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari semesta alam.” (QS. Al-Ankabut [29]: 6)
                Ketika Alloh Ta'ala tidak membutuhkan kepada makhluk-Nya, maka sebaliknya, seluruh makhluk sangat membutuhkan-Nya, setiap saat dan setiap waktu. Mereka yang beriman maupun yang kafir, semuanya bergantung kepada-Nya. Tak ada yang sanggup membantah fakta ini. Karena, kebutuhan seorang hamba kepada-Nya adalah sifat yang selalu melekat. Alloh berfirman,

 “Hai sekalian manusia, kalianlah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha terpuji.” (QS. Fathiir [35]: 15)
                Terlebih lagi insan yang beriman, ia sangat menyadari akan kebutuhannya kepada Alloh, tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak. Ibnu Taimiyyah berkata, “Seorang hamba dalam berbuat taat sangat membutuhkan pertolongan Alloh dalam setiap waktunya dan untuk mengokohkan hatinya. Karena, sesungguhnya tidak ada kekuatan dan daya upaya kecuali dengan pertolongan Alloh Ta'ala semata.” (Majmu’ al-Fatawa: 1/171)
                Ibnu Rajab berkata, “Seorang hamba senantiasa membutuhkan pertolongan Alloh Ta'ala dalam melaksanakan ketaatan, meninggalkan larangan dan dalam kesabaran atas semua hal, ketika di dunia, ketika meninggalkan dunia ataupun sesudahnya, baik saat di alam kubur ataupun di hari kiamat. Dan tidak ada yang sanggup menolongnya kecuali hanya Alloh  semata. Siapa yang meminta tolong kepada selain-Nya –padahal semua adalah milik-Nya- maka Alloh  akan membiarkan dia bersama orang yang dimintainya, sehingga  jadilah ia orang yang terhina.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hlm. 192-193)
                Alloh telah menunjukkan bukti ketidakbutuhan-Nya dalam banyak ayat-ayat-Nya. Salah satunya adalah bahwa Dia-lah pemilik langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya, dan Dia tidak butuh sekutu dalam kepemilikan-Nya itu. Maka sungguh sangat keliru apabila ada orang yang mengatakan bahwasanya ada penguasa pantai selatan, ada penguasa gunung ini dan itu, sebab Alloh berfiman:
 “Kepunyaan Alloh-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. dan Sesungguhnya Alloh benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Hajj [22]: 64)
                Dalam sebuah hadits qudsi, Alloh Ta'ala menjelaskan ketidakbutuhan-Nya kepada  segenap makhluk-Nya dengan gambaran yang sangat meyakinkan. Dari Abu Dzar Al-Ghifariy radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallohu alaihi wasallam, bahwa Alloh Ta'ala berfirman,
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan perlakuan dzhalim kepada diri-Ku dan aku haramkan di antara kamu, maka janganlah kalian saling mendzhalimi. Wahai hamba-hambaku, kalian semua adalah tersesat kecuali orang-orang yang aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya akan aku beri. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua lapar kecuali orang-orang yang aku beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya akan Aku beri makan. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua telanjang kecuali orang yang aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya akan Aku beri kalian pakaian. Wahai hamba-hamba-Ku, sungguh kalian selalu melakukan kesalahan-kesalahan pada siang dan malam hari, maka mintalah ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu. Wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya kalian tidak akan bisa membuat suatu bahaya yang bisa membahayakan Aku dan sesungguhnya kalian tidak akan bisa membuat manfaat sehingga bermanfaat bagi-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir diantara kalian, baik manusia maupun jin, semuanya bertakwa kepada-Ku seperti orang yang paling takwa diantara kalian, hal itu tidak akan menambah sesuatu pun dalam kerajaan-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir di antara kalian, baik manusia maupun jin, berhati jahat seperti hati oarng yang paling fasik di antara kalian, maka hal itu tidak mengurangi sedikit pun dari kerajaan-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir di antara kalian, baik manusia maupun jin, berada dalam satu tanah yang luas, lalu masing-masing di antara mereka meminta kepada-Ku, kemudian Aku memeberi semua permintaan mereka, tidak lah itu mengurangi apapun yang ada di sisi-Ku, kecuali sebagaimana air yang terambil pada sebatang jarum ketika dimasukkan kedalam laut.” (HR. Muslim)
                Semua ketaatan yang kita lakukan pada hakikatnya kembali untuk kita. Sedangkan bila manusia di muka bumi ini kafir semuanya dan menolak untuk taat kepada-Nya, maka sama sekali itu tidak akan membahayakan Alloh Ta'ala. Alloh berfirman,
 “Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Al-Ankabut [29]: 6)
Juga firman-Nya,
 Dan Musa berkata kepada kaumnya, ‘Jika kalian dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".” (QS. Ibrohim [14]: 8)

Kesesatan Kaum Yahudi
Orang-orang Yahudi adalah kaum yang bodoh dan sesat, karena mereka menyangka bahwa Alloh Ta'ala lemah dan membutuhkan bantuan. Mereka menganggap bahwa Alloh Ta'ala butuh pemberian dan bantuan dari orang-orang kaya. Mahasuci Alloh dari apa yang mereka sifati itu. Semoga Alloh Ta'ala melaknat mereka sampai hari kiamat. Alloh Ta'ala berfirman,
 “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang Yahudi yang mengatakan: "Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya". Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): "Rasakanlah oleh kalian azab yang membakar".” (QS. Ali ‘Imron [3]: 181)
                Maka seorang yang diminta untuk berkorban di jalan Alloh Ta'ala, harus berkeyakinan bahwa Alloh Ta'ala tidak membutuhkannya, justru dialah yang membutuhkan Alloh Ta'ala, Alloh menyeru kita untuk berkorban supaya Dia memberi pahala yang berlipat ganda kepada kita dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya.

Buah Mengimani Nama Alloh Ta'ala al-Ghaniy:
 Diantara buah mengimani nama Alloh Ta'ala al-Ghaniy adalah:

1.     Menanamkan makna nama ini  kedalam hati akan menumbuhkan kesadaran diri untuk selalu bersandar kepada-Nya dalam setiap keperluan. Karena, memang seorang hamba akan selalu membutuhkan Penciptanya, memerlukan-Nya untuk bertahan hidup, menjadikan hidupnya bermanfaat dan terhindar dari setiap keburukan.
2.     Dengan meyakini ke-Mahakayaan Alloh Ta'ala seorang hamba akan memenuhi kefakiran dan kebutuhannya dengan bergantung hanya kepada-Nya. Alloh Ta'ala memuji Nabi dan Khalil-Nya, Ibrohim 'alaihis salam yang sangat menyadari akan kefakirannya di hadapan Khaliknya,
“Ibrahim 'alaihis salam berkata, ‘Dia-lah Yang memberiku makan dan minum, dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkanku, serta yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkanku (kembali), dan Dia-lah yang amat kuharap untuk mengampuni kesalahanku pada hari kiamat".” (QS. Asy-Syu’araa [26]: 79-82)
3.     Rosululloh shallallohu alaihi wasallam juga telah mengajarkan kepada kita sebuah doa yang sangat bermanfaat, yaitu:
اَللَّهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Ya Alloh.... cukuplah aku dengan karunia-Mu yang halal dari apa yang Engkau haramkan, dan penuhilah kebutuhanku dengan karunia-Mu (sehingga aku tidak butuh) kepada selain-Mu.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Demikianlah. Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad, para keluarga dan segenap sahabatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar