Senin, 20 Maret 2017

Perlukah Merayakan Hari Ulang Tahun?



Perlukah Merayakan Hari Ulang Tahun?
Salah satu tradisi yang lekat dengan sebagian masyarakat kita adalah merayakan hari ulang tahun. sebenarnya bagaimanakah pandangan Islam tentang tradisi yang satu ini? Sebelum membahas permasalahan ini, ada satu prinsip atau kaidah yang harus kita ketahui, yaitu bahwa syari'at Islam diturunkan oleh Allah untuk mewujudkan kemaslahatan bagi manusia dan menyempurnakan kemaslahatan tersebut serta untuk meniadakan kemudharatan/bahaya dari manusia atau memperingan bahaya tersebut. Sehingga apa saja yang bermanfaat bagi manusia dan tidak mengandung keburukan pasti akan dibolehkan dalam syari'at Islam, dan sebaliknya apa saja yang membahayakan manusia –baik membahayakan di dunia atau di akhirat- pasti akan dilarang oleh syari'at Islam.
Terkait dengan tradisi merayakan hari ulang tahun, maka dalam hal ini terdapat satu bahaya yaitu terjatuh dalam perbuatan meniru-niru tradisi orang-orang di luar Islam, yaitu tradisi kaum yahudi atau nasrani. Merayakan hari ulang tahun adalah tradisi yang datang dari mereka, kaum nasrani. Maka sebagai umat yang telah dimuliakan oleh Allah dengan Islam, tidak sepantasnya kita meniru-niru kebiasaan/tradisi umat yang dimurkai oleh Allah Ta'ala.
Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam,
من تشبه بقوم فهو منهم
Siapa yang meniru-niru suatu kaum, maka ia termasuk ke dalam golongan kaum tersebut” [HR. Abu Dawud, disahihkan oleh Ibnu Hibban]
Maka orang yang merayakan hari ulang tahun seolah ia bagian dari kaum di luar Islam tersebut. Karena, hari besar kaum muslimin adalah hari ‘iedul fitri dan hari ‘iedul adh-ha. Pada saat memasuki kota Madinah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati dua hari raya yang digunakan kaum Anshar sebagai waktu bersenang-senang dan menganggapnya sebagai hari ‘Ied, maka beliau bersabda.
إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْر
“Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha”.
Kemudian, mengikuti tradisi orang-orang Barat dapat menimbulkan perasaan dekat dan simpati dengan mereka. Hal ini dapat kita amati dengan jelas pada sebagian pemuda yang ngefans atau gemar dengan musik Barat, mereka begitu cinta dan bersimpati terhadap para penyanyi-penyanyi Barat seperti Jhon Lenon, Michel Jackson, dan lain-lain. Sebagian lagi mengidolakan bintang-bintang film Hollywood. Padahal mencintai orang-orang kafir dan merasa dekat/kagum terhadap  mereka adalah perbuatan yang dibenci oleh Allah dan diharamkan oleh-Nya. Karena, mereka adalah musuh-musuh Allah, akidah mereka mengagungkan salib dan mengikuti jalan syetan, mereka termasuk dari golongan dhoolliin (orang-orang yang tersesat) yang setiap shalat kita berlindung kepada Allah Ta'ala dari mengikuti jalan mereka. Lalu bagaimana kita mau mengikuti tradisi mereka? Sementara itu Allah Ta'ala telah berfirman:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir mereka  berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” [QS. Al Mujadalah: 22]
Dalam tradisi merayakan hari ulang tahun sering kita dapati ungkapan, “Panjang Umurnya, panjang umurnya...” ini mirip doa dan harapan agar kawan yang sedang merayakan hari ulang tahunnya atau anak kita yang sedang merayakan hari ulang tahunnya dipanjangkan umurnya oleh Allah. Padahal, panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatan-Nya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalannya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits.
Karena itu, umur panjang kadang kala tidak baik bagi yang bersangkutan, karena umur yang panjang jika disertai dengan amalan yang buruk -semoga Allah menjauhkan kita darinya- hanya akan membawa keburukan baginya, serta menambah siksaan dan malapetaka
Mungkin sebagian berkata, merayakan hari ulang tahun pada hakikatnya adalah mensyukuri nikmat Allah berupa kehidupan dan dipanjangkannya usia seseorang hingga dapat melakukan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat. Jawabannya, mensyukuri nikmat Allah berupa kesehatan, kehidupan, usia yang panjang, sepatutnya dilakukan setiap hari bukan setiap tahun. Dan tidak perlu dilakukan dengan ritual atau acara khusus, Allah Maha Mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi di dalam dada hamba-Nya, apakah ia bersyukur atau tidak.  Demikian juga refleksi diri, merenungi apa yang kurang dan apa yang perlu ditingkatkan dari diri kita selayaknya menjadi renungan harian setiap muslim, bukan renungan tahunan.
 Demikianlah, Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad, para keluarga dan segenap sahabatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar