Perlukah Merayakan Hari Ulang Tahun?
Salah satu tradisi
yang lekat dengan sebagian masyarakat kita adalah merayakan hari ulang tahun. sebenarnya
bagaimanakah pandangan Islam tentang tradisi yang satu ini? Sebelum membahas permasalahan
ini, ada satu prinsip atau kaidah yang harus kita ketahui, yaitu bahwa syari'at
Islam diturunkan oleh Allah untuk mewujudkan kemaslahatan bagi manusia dan menyempurnakan
kemaslahatan tersebut serta untuk meniadakan kemudharatan/bahaya dari manusia atau
memperingan bahaya tersebut. Sehingga apa saja yang bermanfaat bagi manusia dan
tidak mengandung keburukan pasti akan dibolehkan dalam syari'at Islam, dan sebaliknya
apa saja yang membahayakan manusia –baik membahayakan di dunia atau di akhirat-
pasti akan dilarang oleh syari'at Islam.
Terkait dengan tradisi
merayakan hari ulang tahun, maka dalam hal ini terdapat satu bahaya yaitu terjatuh
dalam perbuatan meniru-niru tradisi orang-orang di luar Islam, yaitu tradisi
kaum yahudi atau nasrani. Merayakan hari ulang tahun adalah tradisi yang datang
dari mereka, kaum nasrani. Maka sebagai umat yang telah dimuliakan oleh Allah dengan
Islam, tidak sepantasnya kita meniru-niru kebiasaan/tradisi umat yang dimurkai oleh
Allah Ta'ala.
Hal ini sebagaimana
sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam,
من تشبه بقوم
فهو منهم
“Siapa yang
meniru-niru suatu kaum, maka ia termasuk ke dalam golongan kaum tersebut”
[HR. Abu Dawud, disahihkan oleh Ibnu Hibban]
Maka orang yang
merayakan hari ulang tahun seolah ia bagian dari kaum di luar Islam tersebut. Karena,
hari besar kaum muslimin adalah hari ‘iedul fitri dan hari ‘iedul adh-ha. Pada saat
memasuki kota Madinah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati dua hari
raya yang digunakan kaum Anshar sebagai waktu bersenang-senang dan
menganggapnya sebagai hari ‘Ied, maka beliau bersabda.
إِنَّ اللَّهَ
قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْر
“Sesungguhnya
Allah telah menggantikan bagi kalian hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu
‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha”.
Kemudian,
mengikuti tradisi orang-orang Barat dapat menimbulkan perasaan dekat dan simpati
dengan mereka. Hal ini dapat kita amati dengan jelas pada sebagian pemuda yang ngefans
atau gemar dengan musik Barat, mereka begitu cinta dan bersimpati terhadap para
penyanyi-penyanyi Barat seperti Jhon Lenon, Michel Jackson, dan lain-lain. Sebagian
lagi mengidolakan bintang-bintang film Hollywood. Padahal mencintai orang-orang
kafir dan merasa dekat/kagum terhadap mereka
adalah perbuatan yang dibenci oleh Allah dan diharamkan oleh-Nya. Karena, mereka
adalah musuh-musuh Allah, akidah mereka mengagungkan salib dan mengikuti jalan
syetan, mereka termasuk dari golongan dhoolliin (orang-orang yang tersesat)
yang setiap shalat kita berlindung kepada Allah Ta'ala dari mengikuti jalan mereka.
Lalu bagaimana kita mau mengikuti tradisi mereka? Sementara itu Allah Ta'ala telah
berfirman:
لَا تَجِدُ
قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ
“Kamu tidak
akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir mereka berkasih sayang dengan orang-orang yang
menentang Allah dan Rasul-Nya” [QS. Al Mujadalah: 22]
Dalam tradisi merayakan
hari ulang tahun sering kita dapati ungkapan, “Panjang Umurnya, panjang
umurnya...” ini mirip doa dan harapan agar kawan yang sedang merayakan hari
ulang tahunnya atau anak kita yang sedang merayakan hari ulang tahunnya
dipanjangkan umurnya oleh Allah. Padahal, panjang umur bagi seseorang tidak
selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah
dan ketaatan-Nya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik
amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang
umurnya dan buruk amalannya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits.
Karena itu, umur
panjang kadang kala tidak baik bagi yang bersangkutan, karena umur yang panjang
jika disertai dengan amalan yang buruk -semoga Allah menjauhkan kita darinya-
hanya akan membawa keburukan baginya, serta menambah siksaan dan malapetaka
Mungkin sebagian berkata, merayakan hari ulang tahun pada
hakikatnya adalah mensyukuri nikmat Allah berupa kehidupan dan dipanjangkannya
usia seseorang hingga dapat melakukan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat. Jawabannya,
mensyukuri nikmat Allah berupa kesehatan, kehidupan, usia yang panjang,
sepatutnya dilakukan setiap hari bukan setiap tahun. Dan tidak perlu dilakukan
dengan ritual atau acara khusus, Allah Maha Mengetahui yang tampak dan yang
tersembunyi di dalam dada hamba-Nya, apakah ia bersyukur atau tidak. Demikian juga refleksi diri, merenungi apa
yang kurang dan apa yang perlu ditingkatkan dari diri kita selayaknya menjadi
renungan harian setiap muslim, bukan renungan tahunan.
Demikianlah, Semoga
shalawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad, para keluarga dan segenap sahabatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar