Syarat diterimanya Syahadat Tauhid
Sebagaiman telah dimaklumi oleh
setiap Muslim, bahwa kalimat laa
ilaaha illallah merupakan pondasi agama Islam. Di atas kalimat inilah
dibangun seluruh ajaran Islam. Ibarat sebuah rumah, tidak mungkin ia akan
berdiri tegak dan kokoh jika tidak didukung oleh fondasi yang kuat. Tidak ada
perbedaan di kalangan para ahli bangunan, bahwa yang pertama kali dilakukan
jika seseorang hendak membangun rumah atau gedung adalah membangun fondasinya terlebih
dahulu. Semakin kokoh suatu fondasi maka semakin kokoh pula bangunannya.
Kalimat ini
pula, yakni kalimat laa ilaaha illallah, bersama dengan kalimat
syadahat muhammadur rasulullah, merupakan rukun yang pertama dari kelima
rukun Islam. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits yang shahih
bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بني الإسلام
على خمس: شهادة أن لا
إله إلا الله وأن محمدا رسول الله، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وحج
البيت
“Islam
dibangun di atas lima perkara: (1) Syahadat bahwa tiada tuhan yang berhak
disembah dengan benar selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah; (2)
Menegakkan shalat; (3) Menunaikan zakat; (4) Puasa di bulan Ramadhan; dan (5)
Berhaji ke Baitullah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam kitab Shahihain,
disebutkan sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu,
bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz
radhiyallahu ‘anhu berdakwah ke Yaman, beliau mewasiatkan,
إنك تأتي قوما
من أهل الكتاب فادعهم إلى أن يشهدوا أن لا إله إلا الله وأني رسول الله، فإن
أطاعوك لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في اليوم والليلة، فإن أطاعوك
لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد في فقرائهم
“Sesungguhnya
engkau akan menghadapi kaum Ahli Kitab maka ajaklah mereka untuk bersyahadat
bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa diriku adalah
utusan Allah. Jika mereka mematuhimu dalam hal tersebut, beritahu mereka
kemudian bahwa Allah telah mewajibkan mereka untuk shalat lima kali sehari
semalam. Jika mereka pun patuh untuk itu, ajari pula mereka bahwa Allah
mewajibkan mereka menunaikan zakat yang ditarik dari orang-orang kaya mereka
lalu diserahkan pada para fakir miskin dari kalangan mereka.” (HR.
Al-Bukhari dan Muslim )
Hadits-hadits
dalam masalah ini pun banyak sekali.
Makna syahadat laa
ilaaha illallaah adalah tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali
Allah. Kalimat ini meniadakan hak peribadahan yang sejati dari
selain Allah dan menetapkannya hanya untuk Allah semata sebagaimana firman
Allah dalam surat Al-Hajj:
ذَٰلِكَ بِأَنَّ
اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ
اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
“Demikianlah
(kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang
mereka seru selain Dia, itulah yang batil, dan sungguh Allah Dialah Yang
Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. Al-Hajj: 62)
Dan firman
Allah dalam surat Al-Mu’minun:
وَمَن يَدْعُ
مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ
رَبِّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
“Dan
barangsiapa menyembah tuhan yang lain selain Allah, padahal tidak ada suatu
bukti pun baginya tentang itu, maka perhitungannya hanya pada Tuhannya. Sungguh
orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.” (QS. Al-Mu’minun: 117)
Firman pula
Allah dalam surat Al-Baqarah:
وَإِلَٰهُكُمْ
إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ
“Dan Tuhanmu
ialah Tuhan Yang Mahaesa, tiada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia,
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Allah juga
berfirman dalam surat Al-Bayyinah:
وَمَا أُمِرُوا
إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Padahal
mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas memurnikan ketaatan
kepadaNya semata dalam menjalankan agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Ayat-ayat lain
yang semakna sangat banyak terdapat dalam Al-Qur’an.
Kalimat yang
agung ini tidak akan bermanfaat bagi si pengucapnya dan tidak akan mengeluarkan
si pengucapnya dari wilayah kesyirikan jika ia tidak memahami maknanya, tidak
mengamalkannya, dan tidak membenarkannya. Orang-orang munafik pun
mengucapkannya, namun mereka kelak tetap akan menjadi penghuni neraka yang
paling bawah karena tidak mengimaninya dan tidak mengamalkannya. Demikian pula
orang-orang Yahudi, mereka mengucapkan kalimat ini namun mereka tetaplah
sekafir-kafirnya manusia sebab tiada mereka beriman pada kalimat ini. Begitu
pula para penyembah kuburan dan penyembah orang-orang shalih, yang mereka ini
merupakan orang-orang kafir, mereka mengucapkan kalimat ini namun perkataan,
perbuatan, dan akidah mereka menyelisihi kalimat ini. Maka kalimat ini tidak
bermanfaat sedikit pun bagi mereka dan tidaklah mereka teranggap sebagai kaum
muslimin dengan semata telah mengucapkannya karena mereka sendiri membatalkan
kalimat tauhid ini dengan perkataan, perbuatan, dan akidah mereka.
Sebagian ulama
menghimpun syarat-syarat kalimat tauhid ini dalam dua bait syair:
علم يقين
وإخلاص وصدقك مع محبة وانقياد والقبول لها
وزيد ثامنها
الكفران منك بما سوى الإله من الأشياء قد أُلها
“Ilmu, yakin, ikhlas, dan jujurmu bersama cinta, patuh, dan
penerimaanmu padanya
Tambah yang ke delapan, ingkarmu pada semua yang disembah
selain Dia”
Dua bait ini
mengumpulkan semua syarat kalimat tauhid,
yaitu:
- Ilmu sebagai lawan dari ketidaktahuan. Di atas telah disebutkan bahwa makna kalimat ini ialah tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, maka apa saja yang disembah selain Allah adalah sesembahan yang batil.
- Yakin sebagai lawan dari ragu-ragu. Haruslah dari sisi si pengucap muncul rasa yakin bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah sebenar-benarnya Dzat yang berhak disembah. Keyakinan ini tidak bercampur dengan keraguan sedikit pun.
- Ikhlas, yaitu orang yang mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah tersebut harus memurnikan semua ibadahnya hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata. Jika satu ibadah saja ia persembahkan kepada selain Allah, baik kepada nabi, wali, raja, berhala, maupun jin dan selainnya maka ia telah menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dan membatalkan syarat ikhlas ini.
- Jujur (shidiq). Maknanya ialah orang yang mengucapkan kalimat syahadat haruslah mengucapkannya jujur dari dalam hatinya, hatinya sesuai dengan lisannya dan lisannya sesuai dengan hatinya. Jika ia mengucapkan dengan lisan saja sedangkan hatinya tidak mengimani maknanya maka kalimat ini tidak bermanfaat baginya dan dengan demikian ia tetap berstatus kafir seperti seluruh orang munafik.
- Cinta (mahabbah). Maknanya orang yang mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah tersebut harus mencintai Allah ‘azza wa jalla. Jika ia mengucapkan kalimat ini namun tidak mencintai Allah, ia tetap menjadi kafir, tidak masuk ke dalam Islam sebagaimana orang-orang munafik. Dalilnya ialah firman Allah:
قُلْ إِن
كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah,
ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.’” (QS. Ali Imran: 31).
Dan firmanNya:
وَمِنَ النَّاسِ
مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ
“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan
selain Allah sebagai tandingan yang mereka cintai seperti mereka mencintai
Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165).
Ayat-ayat yang lain yang semakna amat banyak dalam Al-Qur’an
Ayat-ayat yang lain yang semakna amat banyak dalam Al-Qur’an
- Patuh pada konsekuensi yang dikandung oleh makna kalimat tauhid, yaitu dengan hanya menyembah Allah semata, mematuhi syariatNya, mengimani dan meyakini bahwa syariatNya adalah benar. Jika dia mengucapkan kalimat tauhid namun enggan menyembah Allah semata, tidak mematuhi syariatNya bahkan menyombongkan diri, maka ia tidaklah teranggap sebagai muslim. Ia seperti Iblis dan yang semisal dengannya.
- Menerima kandungan makna kalimat tauhid, yaitu dengan menerima bahwa ia harus mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah dan meninggalkan segala bentuk peribadahan kepada selain Dia, dia berkomitmen dan ridha dengan hal ini.
- Kufur terhadap semua yang disembah selain Allah. Maknanya, ia harus berlepas diri dari semua bentuk peribadatan kepada selain Allah, dan meyakini bahwa peribadatan tersebut batil. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dan di dalam
sebuah hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من قال لا إله
إلا الله وكفر بما يعبد من دون الله حرم ماله ودمه وحسابه على الله
“Barangsiapa
mengucapkan laa ilaaha illallah dan mengingkari semua yang disembah selain
Allah, haramlah harta dan darahnya dan hisabnya tergantung kepada Allah.”
(HR. Muslim)
Dalam riwayat
lain, beliau bersabda:
من وحد الله
وكفر بما يعبد من دون الله حرم ماله ودمه
“Barangsiapa
mentauhidkan Allah dan mengingkari semua yang disembah selain Allah maka
haramlah harta dan darahnya.” (HR. Muslim)
Maka wajiblah
atas setiap muslim untuk mewujudkan kalimat tauhid dengan memperhatikan
syarat-syaratnya. Siapa saja yang merealisasikan makna kalimat tauhid dan
istiqamah di atasnya maka ia adalah seorang muslim yang haram darah dan hartanya.
Sekalipun ia tidak mengetahui rincian dari masing-masing syarat. Yang menjadi
tujuan pokok ialah seorang mukmin memahami maknanya dengan benar dan
mengamalkannya walaupun ia tidak mengetahui rincian masing-masing syarat
kalimat tauhid.
Yang dimaksud
dengan thaghut ialah segala sesuatu yang disembah selain Allah, sebagaimana
firmanNya:
لَا إِكْرَاهَ
فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ
بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ
لَا انفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Tidak ada
paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas perbedaan
antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barangsiapa ingkar kepada
thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang pada tali
yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256)
Dan Allah juga
berfirman:
وَلَقَدْ
بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا
الطَّاغُوتَ ۖ
“Dan sungguh
Kami telah mengutus seorang rasul untuk tiap-tiao umat (untuk menyerukan):
Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36)
Barangsiapa
yang disembah oleh orang lain namun ia tidak ridha maka dia tidaklah termasuk
thaghut, misalnya para nabi, orang-orang shaleh, dan para malaikat. Sejatinya
thaghut itu ialah setan yang menyeru manusia untuk menyembah dirinya dan dia
jadikan peribadahan pada dirinya itu suatu hal yang indah di mata manusia. Kita
memohon pada Allah perlindungan untuk diri kita dan seluruh kaum muslimin dari
segala bentuk kejelekan.
Kemudian
terdapat perbedaan antara perbuatan yang membatalkan kalimat tauhid laa
ilaaha illallah dengan perbuatan yang hanya membatalkan bagian penyempurna
iman yang wajib, yaitu bahwa setiap amalan, perkataan, atau keyakinan yang
menjerumuskan pelakunya pada syirik akbar itulah yang membatalkan iman secara
keseluruhan. Misalnya, berdoa meminta sesuatu kepada orang yang sudah
meninggal, malaikat, berhala, pepohonan, bebatuan, bintang-bintang, atau kepada
yang lain semisal itu, atau menyembelih dan bernadzar untuk mereka, sujud
kepada mereka, dan lain-lain. Maka ini semua membatalkan tauhid secara
keseluruhan serta berlawanan dengan kalimat tauhid laa ilaaha illallah bahkan
meniadakannya.
Contoh yang
lain lagi ialah menghalalkan perkara-perkara yang telah Allah haramkan dan
diketahui keharamannya secara dharuri dan ijma’, semisal zina, meminum
khamr, mendurhakai orang tua, riba, dan lain-lain. Contoh lain ialah
menyangsikan perkataan atau perbuatan yang Allah wajibkan yang diketahui secara
dharuri atau lewat ijma’ merupakan bagian dari agama, missal shalat
wajib yag lima, zakat, puasa Ramadhan, berbakti pada orang tua, mengucapkan dua
kalimat syahadat, dan lain-lain.
Adapun
perkataan, perbuatan, dan keyakinan-keyakinan yang melemahkan tauhid dan iman
dan membatalkan aspek penyempurna wajibnya saja ada banyak sekali, misalnya
syirik ashghar semisal riya’ dan bersumpah dengan nama selain Allah, juga
perkataan “sesuai kehendak Allah dan kehendak fulan”, atau ungkapan “ini
dari Allah dan dari si fulan”, dan lain-lain. Demikian pula semua maksiat
itu melemahkan tauhid dan iman serta meniadakan aspek
penyempurna iman yang wajib. Oleh karena itu, wajib mewaspadai semua yang
membatalkan tauhid dan iman atau yang mengurangi pahalanya. Dan iman menurut
Ahlus Sunnah wal Jama’ah mencakup ucapan dan perbuatan, bertambah dengan
melaksanakan amal ketaatan dan berkurang karena mengerjakan maksiat. Dalilnya
banyak sekali dan telah dijelaskan oleh para ulama di kitab-kitab akidah,
tafisr, dan hadits. Barangsiapa yag menginginkan dalilnya maka ia akan
mendapatkannya, alhamdulillah. Di antaranya ialah firman Allah:
وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ
فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ
آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
“Dan apabila
diturunkan suatu surah, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang
berkata, ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan turunnya surah
ini?’ Adapun orang-orang beriman, maka surah ini menambah imannya dan mereka
merasa gembira. ” (QS. At-Taubah: 124)
إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا
تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila nama Allah disebut,
gemtarlah hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka,
bertambahlah imannya dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS.
Al-Anfal: 2)
وَيَزِيدُ
اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى
“Dan Allah
akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah
mendapat petunjuk” (QS. Maryam: 76)
Dan lagi,
ayat-ayat yang semakna dengan ini ada banyak sekali di dalam Al-Qur’an
Al-Karim.
Semoga shalawat dan salam Allah
limpahkan pada Nabi kita Muhammad, para keluarga dan segenap sahabatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar