Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Maret 2017

Kemahakayaan Alloh Ta'ala



Mengimani Kemahakayaan Alloh Ta'ala

Salah satu nama indah bagi Alloh Ta'ala yang Dia perkenalkan kepada hamba-hamba-Nya adalah al-Ghaniy (Yang Maha Kaya). Dia-lah Dzat Yang benar-benar tidak membutuhkan sesuatu pun dari makhluk-Nya, sementara seluruh makhluk sangat berhajat dan membutuhkan kepada-Nya.
Allah Ta'ala berfirman,

“Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqoroh [2]: 267)
Al-Ghaniy menurut lisan Arab maknanya tidak butuh kepada siapa pun. Demikianlah halnya Alloh Ta'ala Dia tidak membutuhkan sesuatu kepada siapa pun. Alloh Ta'ala Maha Suci lagi Maha Tinggi dari sifat butuh kepada yang lain. Sebab, rasa butuh adalah suatu kehinaan. Sebagaimana dikatakan, “Berhutang adalah kehinaan di siang hari dan kerisauan di malam hari.” Karena, berhutang berarti butuh kepada yang lain. Maka Alloh Ta'ala sangat terhindar lagi bersih dari sifat kelemahan ini. Alloh Ta'ala berfirman,

 “Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari semesta alam.” (QS. Al-Ankabut [29]: 6)
                Ketika Alloh Ta'ala tidak membutuhkan kepada makhluk-Nya, maka sebaliknya, seluruh makhluk sangat membutuhkan-Nya, setiap saat dan setiap waktu. Mereka yang beriman maupun yang kafir, semuanya bergantung kepada-Nya. Tak ada yang sanggup membantah fakta ini. Karena, kebutuhan seorang hamba kepada-Nya adalah sifat yang selalu melekat. Alloh berfirman,

 “Hai sekalian manusia, kalianlah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha terpuji.” (QS. Fathiir [35]: 15)
                Terlebih lagi insan yang beriman, ia sangat menyadari akan kebutuhannya kepada Alloh, tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak. Ibnu Taimiyyah berkata, “Seorang hamba dalam berbuat taat sangat membutuhkan pertolongan Alloh dalam setiap waktunya dan untuk mengokohkan hatinya. Karena, sesungguhnya tidak ada kekuatan dan daya upaya kecuali dengan pertolongan Alloh Ta'ala semata.” (Majmu’ al-Fatawa: 1/171)
                Ibnu Rajab berkata, “Seorang hamba senantiasa membutuhkan pertolongan Alloh Ta'ala dalam melaksanakan ketaatan, meninggalkan larangan dan dalam kesabaran atas semua hal, ketika di dunia, ketika meninggalkan dunia ataupun sesudahnya, baik saat di alam kubur ataupun di hari kiamat. Dan tidak ada yang sanggup menolongnya kecuali hanya Alloh  semata. Siapa yang meminta tolong kepada selain-Nya –padahal semua adalah milik-Nya- maka Alloh  akan membiarkan dia bersama orang yang dimintainya, sehingga  jadilah ia orang yang terhina.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hlm. 192-193)
                Alloh telah menunjukkan bukti ketidakbutuhan-Nya dalam banyak ayat-ayat-Nya. Salah satunya adalah bahwa Dia-lah pemilik langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya, dan Dia tidak butuh sekutu dalam kepemilikan-Nya itu. Maka sungguh sangat keliru apabila ada orang yang mengatakan bahwasanya ada penguasa pantai selatan, ada penguasa gunung ini dan itu, sebab Alloh berfiman:
 “Kepunyaan Alloh-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. dan Sesungguhnya Alloh benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Hajj [22]: 64)
                Dalam sebuah hadits qudsi, Alloh Ta'ala menjelaskan ketidakbutuhan-Nya kepada  segenap makhluk-Nya dengan gambaran yang sangat meyakinkan. Dari Abu Dzar Al-Ghifariy radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallohu alaihi wasallam, bahwa Alloh Ta'ala berfirman,
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan perlakuan dzhalim kepada diri-Ku dan aku haramkan di antara kamu, maka janganlah kalian saling mendzhalimi. Wahai hamba-hambaku, kalian semua adalah tersesat kecuali orang-orang yang aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya akan aku beri. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua lapar kecuali orang-orang yang aku beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya akan Aku beri makan. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua telanjang kecuali orang yang aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya akan Aku beri kalian pakaian. Wahai hamba-hamba-Ku, sungguh kalian selalu melakukan kesalahan-kesalahan pada siang dan malam hari, maka mintalah ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu. Wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya kalian tidak akan bisa membuat suatu bahaya yang bisa membahayakan Aku dan sesungguhnya kalian tidak akan bisa membuat manfaat sehingga bermanfaat bagi-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir diantara kalian, baik manusia maupun jin, semuanya bertakwa kepada-Ku seperti orang yang paling takwa diantara kalian, hal itu tidak akan menambah sesuatu pun dalam kerajaan-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir di antara kalian, baik manusia maupun jin, berhati jahat seperti hati oarng yang paling fasik di antara kalian, maka hal itu tidak mengurangi sedikit pun dari kerajaan-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir di antara kalian, baik manusia maupun jin, berada dalam satu tanah yang luas, lalu masing-masing di antara mereka meminta kepada-Ku, kemudian Aku memeberi semua permintaan mereka, tidak lah itu mengurangi apapun yang ada di sisi-Ku, kecuali sebagaimana air yang terambil pada sebatang jarum ketika dimasukkan kedalam laut.” (HR. Muslim)
                Semua ketaatan yang kita lakukan pada hakikatnya kembali untuk kita. Sedangkan bila manusia di muka bumi ini kafir semuanya dan menolak untuk taat kepada-Nya, maka sama sekali itu tidak akan membahayakan Alloh Ta'ala. Alloh berfirman,
 “Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Al-Ankabut [29]: 6)
Juga firman-Nya,
 “Dan Musa berkata kepada kaumnya, ‘Jika kalian dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".” (QS. Ibrohim [14]: 8)

Kesesatan Kaum Yahudi
Orang-orang Yahudi adalah kaum yang bodoh dan sesat, karena mereka menyangka bahwa Alloh Ta'ala lemah dan membutuhkan bantuan. Mereka menganggap bahwa Alloh Ta'ala butuh pemberian dan bantuan dari orang-orang kaya. Mahasuci Alloh dari apa yang mereka sifati itu. Semoga Alloh Ta'ala melaknat mereka sampai hari kiamat. Alloh Ta'ala berfirman,
 “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang Yahudi yang mengatakan: "Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya". Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): "Rasakanlah oleh kalian azab yang membakar".” (QS. Ali ‘Imron [3]: 181)
                Maka seorang yang diminta untuk berkorban di jalan Alloh Ta'ala, harus berkeyakinan bahwa Alloh Ta'ala tidak membutuhkannya, justru dialah yang membutuhkan Alloh Ta'ala, Alloh menyeru kita untuk berkorban supaya Dia memberi pahala yang berlipat ganda kepada kita dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya.

Buah Mengimani Nama Alloh Ta'ala al-Ghaniy:
 Diantara buah mengimani nama Alloh Ta'ala al-Ghaniy adalah:

1.     Menanamkan makna nama ini  kedalam hati akan menumbuhkan kesadaran diri untuk selalu bersandar kepada-Nya dalam setiap keperluan. Karena, memang seorang hamba akan selalu membutuhkan Penciptanya, memerlukan-Nya untuk bertahan hidup, menjadikan hidupnya bermanfaat dan terhindar dari setiap keburukan.
2.     Dengan meyakini ke-Mahakayaan Alloh Ta'ala seorang hamba akan memenuhi kefakiran dan kebutuhannya dengan bergantung hanya kepada-Nya. Alloh Ta'ala memuji Nabi dan Khalil-Nya, Ibrohim 'alaihis salam yang sangat menyadari akan kefakirannya di hadapan Khaliknya,
“Ibrahim 'alaihis salam berkata, ‘Dia-lah Yang memberiku makan dan minum, dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkanku, serta yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkanku (kembali), dan Dia-lah yang amat kuharap untuk mengampuni kesalahanku pada hari kiamat".” (QS. Asy-Syu’araa [26]: 79-82)
3.     Rosululloh shallallohu alaihi wasallam juga telah mengajarkan kepada kita sebuah doa yang sangat bermanfaat, yaitu:
اَللَّهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Ya Alloh.... cukuplah aku dengan karunia-Mu yang halal dari apa yang Engkau haramkan, dan penuhilah kebutuhanku dengan karunia-Mu (sehingga aku tidak butuh) kepada selain-Mu.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Demikianlah. Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad, para keluarga dan segenap sahabatnya.

Kamis, 10 November 2016

Hakikat Mahabbatulloh


HAKIKAT MAHABBATULLAH
Oleh : Syekh Abdul Bari Bin Awadh Al-Tsubaiti

        Cinta kepada Allah merupakan konsekuensi keimanan. Tidak akan sempurna tauhid (peng-Esaan) kepada Allah hingga seorang hamba mencintai Tuhannya secara sempurna. Kecintaa tidak bisa didefinisikan dengan lebih jelas keculai dengan kata "kecintaan" itu sendiri. Dan tidak bisa disifatkan dengan yang lebih jelas seperti kata "kecintaan " itu sendiri. Tidak ada sesuatu yang esensinya patut dicintai dari segala sisi  selain Allah, yang memang tidak boleh ada penyembahan, peribadatan, ketundukan dan kepatuhan serta kecintaan yang sempurna kecuali hanya kepada Nya –subhanahu wa ta’ala-.
        Cinta kepada Allah, bukanlah sembarang cinta; tidak ada suatu apapun yang lebih dicintai dalam hati seseorang selain Sang Penciptanya, Kreatornya. Dialah Tuhannya, Sesembahannya, Pelindungnya, Pengayomnya, Pengaturnya, Pemberi rezekinya, dan Pemberi hidup dan matinya. Maka mencintai Allah –subhanahu wa ta’ala- merupakan kesejukan hati, kehidupan jiwa, kebahagiaan sukma, hidangan batin, cahaya akal budi, penyejuk pandangan dan pelipur perasaan.

       
Tiada suatu apapun menurut hati yang bersih, sukma yang suci, pikiran yang jernih lebih indah, lebih nyaman, lebih lezat, lebih menyenangkan dan lebih nikmat dari pada kecintaan kepada Allah, merasa tenteram damai di sisi-Nya dan kerinduan akan perjumpaan dengan-Nya.         Yahya Bin Mu’adz berkata :

عَفْوُهُ يَسْتَغْرِقُ الذُّنُوْبَ فَكَيْفَ رِضَوَانُهُ؟، وَرِضْوَانُهُ يَسْتَغْرِقُ الآمَالَ فَكَيْفَ حُبُّهُ؟، وَحُبُّهُ يُدْهِشُ الْعُقُوْلَ فَكَيْفَ وُدُّهُ؟، وَوُدُّهُ يُنْسِي مَا دُوْنَهُ فَكَيْفَ لُطْفُهُ؟


“Ampunan-Nya mencakup (menggugurkan) seluruh dosa, lalu bagaimana lagi dengan ridho-Nya?  Ridho-Nya begitu mendominasi seluruh cita-cita dan harapan, lantas bagaimana dengan kecintaan-Nya? Kecintaan-Nya begitu mengagumkan akal pikiran, lalu bagaimana dengan kasih sayang-Nya? Kasih sayangnya begitu melupakan segala yang selainNya, lalu bagaimana dengan kelembutan-Nya?

        Maka, terukur dengan sejauh mana cinta kasih seseorang kepada Allah, sejauh itu pula ia akan merasakan lezat dan manisnya iman. Barangsiapa yang hatinya karam dalam kecintaan kepada Allah, maka cukuplah hal itu menjadikannya tidak perlu dengan kecintaan, kekhawatiran dan kepasrahan hati kepada selain Allah. Sebab tidak ada yang dapat memuaskan hati, tidak bisa mengisi relung-relung cinta hatinya, serta tidak bisa mengenyangkan rasa laparnya kecuali cinta kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-.

        Andakan saja hati seseorang mendapatkan segala apa yang melezatkan, tidaklah ia merasa damai dan tenteram kecuali dengan kecintaannya kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Jika seseorang kehilangan cinta kepada Allah dalam hatinya, maka kepedihan yang dirasakannya jauh lebih parah dari pada kepedihan mata karena kehilangan cahaya pengelihatan, atau kepedihan telinga karena kehilangan pendengaran, hidung karena kehilangan penciuman dan mulut karena kehilangan kemampuan berbicara, bahkan kerusakan hati akibat kekosongan dari rasa cinta kepada Allah sebagai Penciptanya, Pencetus wujudnya dan Tuhan sesembahannya yang sejati, jauh lebih berat dari pada kerusakan fisik karena terpisah dari nyawanya.

        Esensi (hakikat) cinta adalah bilamana Anda merelakan segala yang Anda miliki untuk seseorang yang Anda cintai sehingga tidak menyisakan sedikitpun apa yang ada pada diri Anda. Di sinilah, maka kecintaan seseorang kepada Allah hendaklah mengalahkan dan mendominasi segala perkara yang dicintai, sehingga apapun yang dicintai oleh seseorang tunduk kepada cinta yang satu ini yang menjadi penyebab kebahagiaan dan kesuksesan bagi dirinya.

        Kadar kecintaan dalam hati orang yang mencintai Allah adalah bertingkat-tingkat. Itulah sebabnya, Allah –subhanahu wa ta’ala- melukiskan betapa besarnya kecintaan orang-orang mukmin kepada-Nya dalam firman-Nya :

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَشَدُّ حُبّٗا لِّلَّهِۗ]

“Orang-orang yang beriman sangat mendalam cintanya kepada Allah.”. Qs Al-Baqarah : 165

Kata “Asyaddu” (sangat mendalam) menjadi bukti adanya tingkatan cinta dalam hati mereka. Artinya, ada cinta yang lebih tinggi dan kemudian ada lagi yang lebih tinggi.

        Cinta kepada Allah berarti Anda mengutamakan segala sesuatu yang disenangi Allah di atas diri Anda, jiwa Anda dan harta benda Anda, lalu ketaatan Anda kepada Allah dalam kesendirian dan keramaian, kemudian kesadaran diri akan kelalaian Anda dalam mencintai Allah. Seharusnya secara totalitas Anda mencintai Allah dengan mencurahkan jiwa dan raga serta pengembaraan hati dalam upaya mencari Sang Kekasih, dengan lisan yang selalu bergerak untuk menyebut nama-Nya.

Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :

وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ

“Aku memohon kepada-Mu agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu dan mencintai amal yang mendekatkan diriku untuk mencinta-Mu.”

        Suatu kecintaan yang apabila telah melekat di hati seseorang dan memuncak, akan menjadi al-Walah (ketundukan/peribadatan), dan al-Walah adalah kecintaan yang sangat dalam. Karenanya at-taalluh (ketundukan dan peribadatan) kepada Allah adalah bentuk kecintaan yang dalam kepada Allah dan kecintaan terhadap perkara yang datang dari sisi Allah.

        Kebutuhan manusia akan kecintaan secara mendalam kepada Allah jauh lebih mendesak dari pada bebutuhannya akan asupan zat gizi (makanan). Sebab jikalau kekurangan asupan zat gizi itu dapat merusak tubuh seseorang, maka kekurangan cinta yang mendalam (kepada Allah) dapat merusak jiwa spiritualnya.

        Seorang mukmin ketika mengenal Tuhannya, pastilah ia cinta kepada-Nya. Ketika itulah dirinya memusatkan perhatian kepada-Nya. Jika ia telah dapat merasakan manisnya konsentrasi kepada-Nya, maka ia tidak lagi melihat dunia dengan kaca mata syahwat (kelezatan sesaat) dan tidak pula melihat akhirat dengan pandangan pesimistis (kendur semangat).

        Cinta kepada Allah mendorong seseorang melakukan kewajiban dan meninggalkan larangan, memacu seorang hamba melaksanakan amal ibadah sunnah, dan mencegahnya berbuat hal-hal yang makruh (tidak selayaknya dilakukan).

        Cinta kepada Allah memenuhi hati seseorang dengan kelezatan dan manisnya iman.

ذَاقَ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِيْناً وَمُحَمَّدٍ رَسُولاً

“Akan dapat merasakan manisnya iman, seorang yang ridha Allah sebagai Tuhan-nya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sebagai rasul.”

        Cinta kepada Allah dapat mengusir dari dalam hati segala bentuk kecintaan kepada apa saja yang tidak disenangi Allah. Organ-organ tubuh dengan dorongan kecintaan kepada Allah akan tergugah untuk beribadah kepada-Nya, dan jiwa menjadi tenteram karenanya. Allah berfirman dalam hadis qudsi :

فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا .

"Jika Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan mendengar, penglihatannya yang dia gunakan melihat, tangannya yang dia gunakan memukul dan kakinya yang digunakan berjalan.”
 
        Seeorang yang sedang mencintai, karena keasyikan dan kelezatan cintanya ia akan melupakan segala derita cobaan, tidak terasa baginya kepedihan yang dirasakan orang lain. Cinta kepada Allah merupakan kekuatan yang sangat kuat untuk mendorong seseorang mampu bertahan untuk tidak melanggar dan mendurhakai Allah. “Orang yang mencintai tunduk kepada sang kekasih yang dicintainya.” "
إنَّ المُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيْعٌ "

        Semakin kuat dorongan cinta dalam hati seseorang, akan semakin kuat pula dorongan untuk melaksanakan ketaatan serta menghindari kemaksiatan dan pelanggaran. Sebab kemaksiatan dan pelanggaran hanya terjadi akibat lemahnya dorongan cinta dalam diri seseorang.

        Cinta yang sejati, membuat seseorang merasa dikawal oleh pengawas dari sang kekasih untuk membimbing hatinya berikut organ-organ tubuhnya. Hanya sekedar cinta tidak akan berdampak positif seperti ini selama tidak disertai sikap pengagungan dan pemuliaan terhadap sang kekasih. Jika cinta itu disertai sikap pengagungan dan rasa hormat, maka akan melahirkan rasa malu berikut ketaatan. Namun jika kosong dari sikap pengagungan dan rasa hormat, maka cinta model itu hanya membuahkan semacam kemesraan, kepuasan, keharuan dan kerinduan belaka. Itulah sebabnya, mengapa pengaruh positif cinta tersebut tidak ada. Ketika yang bersangkutan memeriksa hatinya, ternyata ia pun menemukan rasa cinta kepada Allah, tetapi cinta yang tidak mendorong dirinya untuk meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya.

        Sebabnya adalah, kehampaan cinta tersebut dari sikap pengagungan dan rasa hormat. Padahal tidak ada sesuatu yang mampu memakmurkan hati setara dengan cinta yang disertai sikap pengagungan dan rasa hormat. Itulah anugerah Allah –subhanahu wa ta’ala- yang paling besar dan paling utama bagi seorang hamba, dan itu pula karunia Allah yang berikan kepada orang yang dikehendaki-Nya.

        Cinta yang hampa dari sikap ketundukan dan kerendahan hati, sesungguhnya hanyalah pengakuan cinta yang tidak bermutu. Sama seperti orang yang mengaku dirinya cinta kepada Allah, tetapi tidak mau melaksanakan perintah-Nya dan tidak patuh kepada sunnah Nabi-Nya Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam-; tidak meneladaninya dalam ucapan, perbuatan dan amal ibadah.

        Tidak disebut cinta kepada Allah dan tidak pantas mengaku cinta kepada-Nya orang yang tidak meneladani Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-. Oleh karena itu, Allah menceritakan tentang ucapan orang-orang Yahudi dan Nasrani dalam firman-Nya :

وَقَالَتِ ٱلۡيَهُودُ وَٱلنَّصَٰرَىٰ نَحۡنُ أَبۡنَٰٓؤُاْ ٱللَّهِ وَأَحِبَّٰٓؤُهُۥۚ]

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya". Qs Al-Maidah : 18


Pengakuan semata tanpa bukti nyata, semua orang pun bisa berbuat seperti itu. Di sinilah Allah memadamkan seluruh pengakuan dan menyingkap kedok kepalsuannya dalam firmanNya :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ]

"Katakanlah jika kalian benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan memaafkan dosa-dosa kalian, dan Allah maha pengampun lagi penyayang." Qs Ali-Imron : 31

        Diantara indikasi cinta kepada Allah adalah mencintai orang-orang yang taat kepada Allah, loyal kepada wali-wali Allah, dan memusuhi orang-orang yang membangkang kepada-Nya, berjihad melawan musuh-musuh-Nya dan menolong para penolong-Nya. Semakin kuat kecintaan hamba kepada Allah maka semakin kuat pula praktik amal-amalnya.

Di sini penting bagi kita untuk mengenal Sebab-Sebab Yang Mendatangkan Kecintaan Kepada Allah. Diantaranya  :

Mengenal nikmat dan karunia Allah kepada para hambaNya yang tidak terhitung dan tidak terhingga.

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ]

"Dan jika kalian menghitung nikmat-nikmat Allah maka kalian tidak akan mampu menghitungnya" (QS An-Nahl : 18)

وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ]

"Dan berbuatlah baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu." Qs Al-Qosos : 77

        Diantara sebab yang mendatangkan kecintaan kepada Allah adalah mengenal Allah –subhanahu wa ta’ala- melalui nama-namaNya yang terindah dan sifat-sifatNya serta perbuatan-perbuatanNya.  Siapa yang mengenal Allah maka ia akan mencintai Allah, siapa yang mencintai Allah maka ia akan taat kepadaNya, siapa yang taat kepada Allah maka Allah akan memuliakannya, dan siapa yang dimuliakan Allah maka Allah akan menempatkannya di sisiNya, dan siapa yang ditempatkan oleh Allah di sisi-Nya maka sungguh mujur nasibnya.

        Di antara penyebab utama cinta kepada Allah adalah merenungkan tentang kerajaan-Nya di langit dan di bumi. Semua yang Allah ciptakan merupakan tanda-tanda yang melambangkan keagungan-Nya, kemaha-kuasaan-Nya, kemuliaan-Nya, kesempurnaan-Nya, keperkasaan-Nya, kelembutan dan kasih sayang-Nya, dan nama-nama Allah yang demikian indah serta sifat-sifatNya yang luhur lainnya. Maka semakin kuat makrifat (pengenalan) hamba tentang Allah, maka semakin kuat pula rasa cintanya kepada Allah dan kecintaannya untuk mentaati-Nya. 

        Di antara sebab yang mendatangkan kecintaan kepada Allah adalah bersikap tulus dan ikhlas dalam bermu’amalah dengan Allah, serta tidak menuruti kemauan hawa nafsu. Hal ini merupakan penyebab turunnya karunia Allah kepada hambaNya sehingga anugerah cinta kepada-Nya dapat diraih.

        Diantara sebab terbesar untuk mendatangkan kecintaan kepada Allah adalah memperbanyak dzikir ( mengingat) Allah.

"
فَمَنْ أحَبَّ شيْئًا أكْثَرَ مِنْ ذِكْرِهِ "

“Siapa yang cinta kepada sesuatu, maka ia akan sering menyebutnya.
Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ [ الرعد / 28]

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram." Qs Ar-Ra'du : 28

Khotbah Kedua:  Saudara-saudaraku seiman!

Di sini ada empat bentuk kecintaan yang harus dibedakan satu dengan yang lainnya.

Pertama : Kecintaan kepada Allah. Kecintaan ini semata tidak cukup untuk menyelamatkan seseorang dari azab Allah dan meraih ganjaran dari pada-Nya. Karena kaum musyrikin, para penyembah salib, kaum yahudi, dan yang lainnya juga mencintai Allah.

Kedua : Mencintai apa yang dicintai oleh Allah, dan kecintaan inilah yang memasukan seseorang ke dalam Islam dan mengeluarkannya dari kekufuran. Sedangkan orang yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling mampu mengaplikasikan kecintaan ini dan yang paling konsisten menjalankannya.

Ketiga : Cinta di jalan Allah dan karena Allah. Maka inilah konsekuensi dari mencintai apa yang dicintai oleh Allah, yang mana tidak akan lurus kecintaan apa yang dicintai oleh Allah kecuali melalui cinta di jalan-Nya dan karenaNya.

Keempat : Mencintai selain Allah di samping cinta kepada Allah. Inilah cinta kesyirikan. Maka semua yang mencintai sesuatu yang lain bersamaan dengan kecintaan kepada Allah, bukan karena Allah, dan bukan juga di jalan Allah, maka ia telah menjadikannya sebagai partner atau tandingan bagi Allah. Inilah bentuk kecintaan kaum musyrikin.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ [البقرة/165]

"Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, maka amat sangat mendalam cintanya kepada Allah." Qs Al-Baqoroh : 165